Peluncuran Roket Long March 5B. (BP/Antara)

SHANGHAI, BALIPOST.com – Puing-puing roket terbesar China yang diluncurkan pekan lalu diperkirakan akan masuk kembali ke atmosfer. Peristiwanya diperkirakan terjadi dalam beberapa jam mendatang, kata pusat pelacakan Eropa dan AS pada Sabtu (8/5).

Dikutip dari Kantor Berita Antara, meskipun masih ada berbagai perkiraan di mana roket akan mendarat, tampaknya kemungkinan besar tidak akan menghantam Amerika Serikat. Kementerian luar negeri China mengatakan pada Jumat (7/5) bahwa sebagian besar puing akan terbakar saat masuk kembali ke atmosfer dan sangat tidak mungkin menyebabkan kerusakan.

Sebelumnya, militer AS mengatakan bahwa apa yang disebutnya benda yang masuk kembali ke atmosfer dengan tidak terkendali telah dilacak oleh Komando Luar Angkasa AS. Komando Luar Angkasa AS memperkirakan masuk kembali ke atmosfer akan terjadi pada 02.11 GMT pada Minggu, plus atau minus satu jam.

Sementara Center for Orbital Reentry and Debris Studies (CORDS) di Aerospace Corporation, pusat penelitian dan pengembangan yang berfokus pada ruang angkasa yang didanai pemerintah AS, memperbarui prediksinya untuk dua jam di kedua sisi 03.02 GMT dengan roket kembali memasuki Pasifik.

Baca juga:  Kasus Lokal Bertambah, Brisbane akan Jalani Penguncian COVID-19 Selama 3 Hari

Pengawasan dan Pelacakan Luar Angkasa UE (EU SST) mengatakan prediksi terbaru untuk waktu masuknya kembali badan roket Long March 5B adalah 139 menit di kedua sisi pukul 02.32 GMT pada Minggu.

EU SST mengatakan probabilitas statistik dari dampak landasan di daerah berpenduduk “rendah”, tetapi mencatat bahwa sifat objek yang tidak terkendali membuat prediksi tidak pasti.

Space-Track, yang melaporan data yang dikumpulkan oleh Komando Luar Angkasa AS, memperkirakan puing-puing tersebut akan masuk kembali ke Cekungan Mediterania.

Ahli astrofisika yang berbasis di Harvard, Jonathan McDowell, mengatakan di Twitter bahwa Amerika Serikat diyakini aman dari dampak potensial, tetapi prediksi baru-baru ini masih melacaknya dari Kosta Rika hingga Australia dan Selandia Baru.

Melaju dengan kecepatan sekitar 4,8 mil per detik, perbedaan hanya satu menit dalam waktu masuk kembali berarti perbedaan ratusan mil di darat.

“Ini sulit untuk diprediksi dan bukan pengukuran yang tepat,” tulis Space-Track di Twitter.

Long March 5B – terdiri dari satu badan inti roket dan empat peluncur – lepas landas dari pulau Hainan China pada 29 April dengan modul Tianhe tak berawak. Rencananga menjadi tempat naung di stasiun luar angkasa permanen China.

Baca juga:  Diguncang Gempa, Jepang Alami Tsunami 1 Meter

Roket tersebut akan diikuti oleh 10 misi lagi untuk menyelesaikan stasiun itu.bRoket Long March 5 telah menjadi bagian integral dari ambisi luar angkasa jangka pendek China – mulai dari pengiriman modul dan awak stasiun luar angkasa yang direncanakan hingga peluncuran wahana penjelajahan ke Bulan dan bahkan Mars.

Long March yang diluncurkan minggu lalu adalah pengiriman kedua dari varian 5B sejak penerbangan perdananya pada Mei tahun lalu.

McDowell sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa ada kemungkinan potongan-potongan roket itu bisa jatuh di darat, mungkin di daerah berpenduduk, seperti pada Mei 2020, ketika potongan-potongan dari Long March 5B pertama jatuh di Pantai Gading, merusak beberapa bangunan. Tidak ada korban luka yang dilaporkan.

Puing-puing dari peluncuran roket China biasa jatuh di China. Pada akhir April, pihak berwenang di kota Shiyan, Provinsi Hubei, mengeluarkan pemberitahuan kepada orang-orang di sekitar kabupaten tersebut untuk mempersiapkan evakuasi karena bagian-bagian roket diperkirakan akan mendarat di daerah tersebut.

Baca juga:  Tokyo Laporkan Rekor Baru Kasus COVID-19 Harian

“Masuknya Long March 5B kembali ke atmosfer tidak biasa karena selama peluncuran, tahap pertama roket mencapai kecepatan orbit, bukan jatuh dalam jangkauan seperti yang biasa dilakukan,” kata Aerospace Corporation dalam sebuah posting blog.

“Badan roket yang kosong sekarang berada dalam orbit elips di sekitar Bumi di mana roket itu ditarik menuju atmosfer yang tidak terkendali.”

Badan inti roket yang kosong telah kehilangan ketinggian sejak minggu lalu, tetapi kecepatan peluruhan orbitnya tetap tidak pasti karena variabel atmosfer yang tidak dapat diprediksi.

Ini adalah salah satu bagian terbesar dari puing-puing ruang angkasa yang kembali ke Bumi, dengan para ahli memperkirakan berat keringnya sekitar 18 hingga 22 ton.

Badan inti dari Long March 5B pertama yang kembali ke Bumi tahun lalu memiliki berat hampir 20 ton, hanya dilampaui oleh puing-puing dari pesawat ulang-alik Columbia pada 2003, stasiun luar angkasa Salyut 7 Uni Soviet pada 1991, dan Skylab NASA pada 1979. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *