Seorang WNA sedang berjalan-jalan di Pantai Pererenan, Badung. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ekonomi Bali masih menunjukkan pergerakan meskipun pariwisatanya saat ini mengalami kelumpuhan dihantam pandemi COVID-19. Bahkan, sejumlah indikator memperlihatkan arah positif. Seperti peredaran uang, inflasi, peningkatan kunjungan ke pusat perbelanjaan, perdagangan online dan tingginya minat pelaku usaha di Bali merambah bisnis online.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali Trisno Nugroho, Senin (26/4) mengatakan, masih ada kegiatan ekonomi saat ini di Bali. Salah satu yang menggerakkan ekonomi adalah adanya upacara keagamaan Hindu yaitu Galungan dan Kuningan serta Lebaran. Salah satu indikatornya terlihat dari peredaran uang saat hari raya Galungan. Terjadi kenaikan kebutuhan uang rupiah dari Rp 31,2 miliar meningkat menjadi Rp 46,2 miliar pada April.

Pergerakan ekonomi ini terlihat dari perubahan harga ke arah positif (inflasi) masih terjadi pada bulan lalu dan SPH (Survei Pemantauan Harga) mingguan menunjukan ada peningkatan harga- harga masih terkendali.

Selain itu, dari google mobility indeks di Bali terlihat ada peningkatan kunjungan ke pusat – pusat perbelanjaan. Bergeraknya ekonomi juga terlihat dari perdagangan online di Tokopedia. Berdasarkan data LPEM UI terjadi peningkatan penjualan. Tiga provinsi dengan peningkatan penjualan terbesar di Tokopedia saat pandemi yaitu NTB 114,6%, Sulawesi Tengah 73,4%, dan Selawesi Selatan 73,3%. Sementara di Bali sendiri, minat pelaku usaha merambah bisnis online menduduki peringkat pertama dengan presentase 66,2% menyusul Yogyakarta 42,2%, dan DKI Jakarta 28,3%.

Baca juga:  Perayaan HUT ke-70 Republik Rakyat Tiongkok Berlangsung Meriah

“Secara khusus Tokopedia menyampaikan di Bali terjadi peningkatan transaksi digital yang cukup tinggi. Dengan adanya itu, semua market place sangat antusias untuk membantu pelatihan UMKM di Bali,” ujarnya sembari mengatakan barang – barang dari Bali juga sangat diminati pembeli – pembelu dari luar Bali.

Indikasi lainnya yaitu jumlah merchant di Bali yang menyediakan layananan pembayaran non tunai juga terus meningkat. Per 16 April 2021 ada 206.811 merchant di Bali yang menyediakan pembayaran QRIS. Menurutnya, data ini menjadi indikasi bahwa usaha – usaha di Bali masih berupaya untuk bangkit di tengah pandemi, dengan bertransformasinya mereka ke pembayaran digital.

Baca juga:  Meski Ditutup untuk Umum, Pantai Kuta Masih Dikunjungi Wisatawan

Sementara Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra Giri Tribroto mengatakan, ekonomi Bali masih bisa bergerak tanpa pariwisata dengan mengerjakan sektor lain. OJK mendorong perbankan untuk memberikan pembiayaan pada sektor-sektor yang masih produktif. “OJK mendorong dikembangkannya sektor lain seperti pertanian dan perikanan sehingga dapat dapat membuka lapangan kerja untuk alternatif usaha selain sektor pariwisata,” ujarnya.

OJK mendukung UMKM lokal contohnya KUR kluster, business matching, penggunaan Endek Tenun Bali dalam mendorong sektor non pariwisata.

OJK bertugas dalam mengatur, mengawasi, dan melindungi. Dalam hal nengatur, OJK telah menerbitkan POJK 48/POJK.03/2020 tentang Perubahan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Corona Virus Disease 2019. “Atas dasar tersebut banyak pengusaha yang sudah terbantu dengan relaksasi kredit Perbankan dan Lembaga Pembiayaan,” ungkapnya.

Per 3 Maret 2021, terdapat 230.668 rekening terdampak pandemi Covid-19 dengan besaran kredit mencapai sebesar Rp 34,33 triliun. Dari jumlah tersebut sebanyak 176.558 rekening atau 76,54% rekening debitur terdampak dengan total kredit Rp 28,00 triliun atau 81,55% nominal kredit terdampak, telah mendapatkan restrukturisasi.

Baca juga:  Pengiriman Logistik ke Nusa Penida Dikawal Ketat  

Khusus untuk kredit UMKM, terdapat 99.475 rekening kredit terdampak dengan besaran kredit Rp 19,53 triliun. Dari jumlah tersebut sebanyak 80.704 rekening atau 81,33% rekening debitur UMKM terdampak dengan total kredit Rp 16,80 triliun atau 86,06% nominal kredit terdampak, telah mendapatkan restrukturisasi.

Selain itu debitur yang kreditnya telah direstrukturisasi masih dapat menerima kredit baru oleh bank dengan tetap melaksanakan prinsip kehati-hatian.

Saat ini, kesehatan menjadi hal utama yang terus ditangani. Maka dari itu, vaksin menjadi game changer dari pergerakan mesin ekonomi Bali. “Vaksinasi dengan mengajak FKLJK (Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan) untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) agar roda perekonomian tetap berjalan terus kami lakukan,”ujarnya.

Dalam hal mengawasi, OJK mengawasi LJK yang ada di Bali Nusra agar sesuai fungsinya dan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan, karena jika satu LJK bermasalah pada kondisi saat ini akan berdampak sistemik dan mempengaruhi sektor lainnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.