Luh Mas Sri Diana Wati. (BP/Ist)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali meloloskan satu-satunya atlet muaythai ke PON Papua, yakni Luh Mas Sri Diana Wati. Luh Sri sukses mendulang medali emas di nomor seni perorangan (waikrue), pada Kejurnas Muaythai di Kendari, Sultra, pada akhir Maret lalu. Keberhasilan Luh Sri menyabet emas diharapkan berlanjut hingga pelaksanaan PON di Bumi Cendrawasih, Oktober mendatang.

Harapan itu disampaikan pelatih Wayan Suwita, di Denpasar, Senin (26/4). Menurut dia, Kejurnas Muaythai sekaligus sebagai ajang pemanasan sebelum berlaga resmi di PON Papua. Sementara, juara II direbut atlet Jambi dan medali perunggu diraih atlet DKI. “Sebelum bertanding di Kejurnas, seluruh atlet yang lolos PON dari berbagai provinsi telah dikumpulkan pada pusat pelatihan di Bogor,” terang Suwita.

Baca juga:  Kampanye Sudah Berlalu, Panwaslu Baru Terima Cuti Anggota DPRD Jembrana

Dijelaskannya, saat Pra PON Luh Sri juga menyabet emas untuk wilayah tengah. Keberhasilan mendulang emas berlanjut hingga pada event kejurnas. Untuk itu, pelatih Suwita tetap optimis atlet asuhannya kembali mengukir prestasi terbaik di ajang PON Papua. “Saya optimis Luh Sri bisa kembali menyabet emas asalkan dipoles serius, dibarengi gerakan yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi,” tuturnya.

Bahkan, PB Muaythai Indonesia (MI) rencananya akan kembali mengadakan pusat pelatihan bagi atlet peraih tiket PON, ke Thailand. “Saya juga tidak tahu, apakah Luh Sri ikut ke Thailand atau tidak sebab menyangkut biaya,” ungkapnya. Saat berlaga dan turun pada kejurnas di Kendari, Suwita juga belum mendapat kucuran dana.

Baca juga:  Belasan Pengungsi Mengamankan Diri ke Tampaksiring

Kendati demikian, Suwita tetap getol melatih atlet asuhannya, demi merebut perak di PON Papua. Caranya, dirinya senantiasa dituntut berkreatif, guna menciptakan gerakan yang unik, artistik dan klasik. Ia menyebutkan, unik maknanya gerakannya berbeda dibandingkan dengan yang lain, kemudian artistik artinya tidak keluar dari gerakan baku/pakem muaythai, serta klasik yakni tiap gerakan mengandung makna filosofi.

“Selain itu untuk nomor seni juga diperlukan ekspresi wajah,” jelasnya. Suwita menitikberatkan nomor seni menonjolkan penampilan (performance). Karena itu, bagi atlet muaythai dituntut piawai dan menjiwai dalam membawakan gerakan. ke depan Suwita juga kembali meracik dan meramu gerakan baru, sebagai persiapan tampil di PON Papua.

Baca juga:  KONI Gianyar Usul Batas Usia Atlet Porprov Tak Berubah

“Sistem penilaian seni perorangan di muaythai, yakni tampil dua atlet dan yang kalah otomatis tersingkir,” beber dia. Luh Sri sendiri tampil tiga kali selama kejurnas, mulai babak penyisihan, semifinal, hingga final gerakannya terus berubah dan penuh inovasi. “Saya melatih Luh Sri dua kali dalam sehari,” tukasnya. (Daniel Fajry/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *