Ngurah Weda Sahadewa. (BP/Istimewa)

Oleh Ngurah Weda Sahadewa

Kekuatan ekonomi berdasarkan pada suatu fondasi kekuatan filsafat ekonomi yang dikembangkan sejak permulaan. Permulaan kehidupan manusia didahului oleh suatu sistem ekonomi non-formal.

Kekuatan ekonomi non-formal inilah yang kemudian dapat menjelma atau memanifestasikan diri ke berbagai bentuk kegiatan ekonomi yang salah satunya memainkan peran penting dalam ekonomi modern sebagai sektor swasta.

Sekalipun sektor swasta saat ini tidak hanya didukung oleh dimensi non-formal saja bahkan institusi yang bersifat formal termasuk dengan lembaga pemerintah ataupun semi-formal bergerak pula di sektor swasta itu.

Taksu merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam hidup manusia sebagai penggerak atas kekuatan spiritual manusia. Hal ini menjadikan manusia menetapkan diri sebagai keberadaan yang tak terpisahkan dengan duniawi dan non-duniawi.

Inilah salah satu rahasia terbesar dalam hidup. Rahasia yang tak terpecahkan oleh semata-mata rasionalitas namun dapat dimengerti sebagai bentuk kekuatan yang memberikan dorongan bagi manusia untuk bertindak atas konteks dan aktualitas tertentu pula.

Baca juga:  Covid-19, Bhagawad-Gita dan Dharma

Kekuatan taksu dapat bersifat lembut dan lemah gemulai dengan serta merta pula dapat memberikan sebagai wujud kewibawaan tertentu sedemikian rupa sehingga setiap pertunjukan tari di Bali digambarkan sebagai mengandung suatu spiritualitas tertentu jika kemudian dapat dikategorikan sebagai metaksu. Sebagai sesuatu yang mengandung taksu tidak lantas kemudian segala sesuatunya beres dengan sendirinya melainkan ada suatu upaya tertentu yang serius untuk menjadikan setiap penampilan seni yang dikategorikan bagian dari budaya itu bertaksu.

Lalu bagaimana dengan taksu ekonomi? Taksu ekonomi itupun tidak lantas disamakan secara simple atas apa yang telah menjadi tradisi bagi suatu masyarakat di Bali. Akan tetapi masyarakat Bali merupakan suatu tatanan masyarakat yang tidak tinggal diam ketika segala dorongan duniawi sudah tidak lagi memberikan jalan keluar melainkan mengambil langkah strategis sinergis dengan dimensi spritualitas termasuk pula kemungkinan-kemungkinan dengan spiritualitas ekonomi.

Baca juga:  Etika Politik dan Risiko Pilkada

Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika masyarakat Bali mungkin sedikit terlupa dengan taksu ekonomi sehingga menjadikan reduksi taksu hanya memiliki suatu kecenderungan kepada dimensi seni semata. Mungkin apa yang terungkap ini ada salahnya namun bagaimana kita arahkan kepada bagaimana agar masyarakat Bali mampu untuk dapat menerjemahkan kegemilangan dalam dunia seni itu ke dalam dunia ekonomi.

Ketika dunia ekonomi non-formal dahulu berkembang maka tidak ada yang dapat menghambat kecuali adanya kemungkinan kuasa pihak tertentu. Inilah yang sebenarnya mampu untuk menciptakan pasar sehingga ekonomi tidak dapat dilepaskan dari keberadaan pasar.

Bahkan sekarang berkembang dengan suatu pasar digital yang bersifat tertentu dengan berbagai perbedaan dengan pasar semula. Tentu dengan berbagai persamaannya. Sekarang saatnya menuju titik pusat dari tulisan ini yaitu taksu merupakan suatu bentuk nilai spiritualitas yang merasuki.

Baca juga:  Pandemi, Tinggalkan Sikap "Maboya"

Ketika ini merasuki dalam dunia seni sebagaimana disinggung tadi maka terjadilah suatu kekuatan adiluhung atas keindahan seni yang berpatokan atas kebenaran dan tentu adanya dimensi ketuhanan. Itulah seringkali muncul istilah dalam dunia keagamaan sebagai Satyam Sivam Sundaram.

Istilah keagamaan dalam Sanatana Dharma ini sekiranya patut menjadi kekuatan pencerah untuk menciptakan agar bagaimana ekonomi melakukan suatu evaluasi kritis atas keberadaannya selama ini.

Evaluasi kritis ini tidak dimaksudkan untuk menjebakkan diri dalam fanatisme keagamaan tertentu melainkan bagaimana nilai dasar suatu kefilsafatan dalam taksu memberikan keringanan bagi masyarakat di tengah beban ekonomi yang mendera saat ini. Keringanan yang dimaksud adalah suatu bentuk manifestasi kemasyarakataan perekonomian baru yang berdimensikan pada nilai-nilai yang mampu untuk membangkitkan kesadaran baru bagi kehidupan ekonomi yang mencerahkan.

Penulis, Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.