I Wayan Sumerta Dana Artha menunjukkan mie buatannya. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Kondisi sulit di masa pandemi COVID-19, “memaksa” banyak orang untuk lebih kreatif dan inovatif mencari penghasilan tambahan agar dapat bertahan. Keahlian dan kejelian dalam melihat peluang pasar juga dibutuhkan untuk mendapatkan sumber penghasilan baru.

Salah satunya seperti dilakukan I Wayan Sumerta Dana Artha, warga Banjar Buahan Tengah, Desa Buahan, Tabanan. Berawal dari keinginan membuat makanan sehat untuk anak-anak selama pembelajaran daring, ia pun akhirnya membuat mie kelor.

Mie ini mengandung saripati daun kelor. Mie hasil produksinya dinamai “Mie Kelor Gud.”  Meski masih terus berproses melengkapi kemasannya, namun citarasa mie kelor buatannya ini mulai dirilik oleh penikmat mie.

Ditemui dirumahnya belum lama ini, Sumerta Dana Artha yang juga seniman karawitan Tabanan ini mengaku, ide awal mie kelor ini muncul dari inspirasi anak-anak yang ia kenal dalam permainan tradisional. Maklum saja, sebelum pandemi, Sumerta banyak berkecimpung mengedukasi dan mengeliatkan permainan tradisional pada anak-anak.

Baca juga:  Antisipasi Lonjakan Pasien COVID-19, RSU Negara Tambah Ruang Isolasi

Pembatasan seluruh kegiatan masyarakat pun juga berdampak pada aktivitas anak-anak yang kini lebih banyak memanfaatkan handphone di rumah, baik untuk pembelajaran daring maupun bermain. Tidak ingin kesehatan mata anak-anak terganggu akibat radiasi handphone, ia pun mencoba membuat sajian makanan sederhana dan digemari seluruh kalangan, serta sehat.

“Saya berpikir mata pasti rusak kalau terus main hp. Kelor solusinya karena ada kandungan vitamin untuk kesehatan mata. Apalagi anak saya yang sedang kuliah juga senang konsumsi mie instan sampai beli dus-dusan,” ujarnya.

Ia pun berpikir untuk membuat mie yang sehat. “Agar anak sehat dulu awalnya dan mie ini makanan pokok yang tidak akan habis peminatnya,” terangnya.

Baca juga:  Lagi, Temuan Bayi di Tabanan

Membuat mie bukan hal baru baginya. Ia sudah mencoba membuat mie tektek.

Keahliannya ini ia dapatkan dari teman-temannya di daerah Lampung yang sukses dengan bisnis mie tekteknya. “Saya kebetulan lama merantau di Lampung hampir 29 tahun. Tiap pulang ke Lampung pasti mencicipi kuliner mie tektek teman asal Bali dan dia cukup sukses dengan bisnisnya ini. Dari sana ada inspirasi mengapa tidak mencoba juga di Bali sampai akhirnya saya beli alat untuk membuat mie dan belajar lagi, tidak hanya dari teman tapi juga di youtube,” terangnya.

Memang diakuinya selama mencoba membuat mie kelor, dirinya berulang kali gagal ketika menentukan kadar air. Namun setelah menemukan takaran yang pas, lebih cepat produksi.

Baca juga:  Jika Ingin Bertahan, Petani Kopi Harus Ikuti Kemajuan Teknologi

Karena masih dilakoni sendiri dibantu keluarganya, rata-rata dalam sehari, ia baru bisa memproduksi 50 bungkus per hari. “Jadi tidak pakai target, dibawa enteng saja dan masih manual. Kalau konsumen menginginkan mereka nunggu saja sampai produk terpenuhi. Jadi pagi hari buat 25 sachet, siang istirahat sorenya lagi buat lagi 25 sachet,” ucapnya.

Ia mengatakan untuk bahan kelor mudah didapat dari kebun sendiri dan ada juga dari tetangga. Selain tekstur mie yang tidak kalah dengan mie lainnya, ciri khas dari “Mie Kelor Gud” ini pada racikan bumbu yang merupakan paduan rempah Bali dan Lampung. “Saat ini masih proses untuk masa kedaluarsa di BBPOM,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.