Hanif Yahya. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Jumlah penduduk miskin di Provinsi Bali mengalami kenaikan signifikan. Pada awal pandemi yaitu Maret 2020, penduduk miskin di Bali bertambah 8,3 ribu dan pada September 2020, angka ini bertambah lagi menjadi puluhan ribu orang, yaitu 31,73 ribu. Total penduduk miskin di Bali hingga September mencapai 196,92 ribu orang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Hanif Yahya mengatakan, persentase penduduk miskin di Bali mencapai 4,45% per September 2020. Naik dibandingkan Maret 2020 yang berjumlah 165,19 ribu.

Dengan kata lain, ada kenaikan 0,67% poin penduduk miskin pada September 2020 dibandingkan Maret 2020. “Secara grafik, dari September 2016 hingga September 2020, persentase penduduk miskin di Bali, angkanya relatif stabil karena berkisar antara 3% – 4%,” ujarnya, Senin (15/2).

Hanif Yahya menambahkan, perbandingan persentase penduduk miskin di kota dan di desa yaitu 5,40% di kota dan 4,04% di desa. Dari angka tersebut dapat disimpulkan terjadi perubahan persentase antara penduduk miskin pada Maret – September 2020, baik di kota maupun di desa.

Baca juga:  Olah Sampah di TPA Suwung, "Beauty Contest" Digelar

Hanif Yahya menjelaskan, penghitungan penduduk miskin di masa pandemi ini juga terjadi perubahan pola penduduk miskin. Penduduk miskin yang lekat dengan daerah perdesaan, di masa pandemi justru peningkatannya lebih tinggi terjadi di daerah perkotaan. “Persentase penduduk miskin di perkotaan naik 0,71%, sedangkan di desa naik 0,62%. Sehingga, disparitas penduduk miskin di desa maupun kota masih tinggi,” ujarnya.

Kondisi ini, kata dia, dikaitkan dengan inflasi pedesaan pada September 2020 yang tercatat 0,49%. Berbeda dengan Maret 2020 yang mengalami deflasi -0,43%. Terlihat dengan geliat harga di perdesaan ini merupakan akibat pergerakan ekonomi desa yang didominasi ekonomi sektor pertanian. “Hal ini mampu menahan penduduk miskin di daerah pedesaan tetap lebih rendah dari kota,” katanya.

Hanif Yahya menjelaskan, perhitungan penduduk miskin di Bali berdasarkan konsep pemenuhan kebutuhan dasar. Penduduk miskin dipandang sebagai ketidakmampuan memenuhi kebutuhan makanan dan bukan makanan yang diukur menurut Garis Kemiskinan (GK).

Baca juga:  Bahayakan Pengendara, Warga Pucangan Tambal Jalan Rusak dengan Semen

Dikatakan, GK dibedakan menjadi GK makanan dan GK bukan makanan. GK makanan yaitu nilai pengeluaran minimum makanan yang disetarakan 2.100 kkal per kapita per hari. Sedangkan GK bukan makanan adalah nilai minimal pengeluaran untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pokok bukan makanan. “Penduduk miskin memiliki pengeluaran rata-rata per kapita per bulan di bawah GK. Pengeluaran per kapita per bulan penduduk miskin di Bali pada September 2020 yaitu di bawah Rp 438.167,” katanya memaparkan.

Persentase pengaruh komoditas makanan pada GK sebesar 68,96% dan non makanan 31,05%. Komoditas non makanan yang menyumbang GK yaitu perumahan, bensin, upacara agama, listrik, pendidikan. Sedangkan pengaruh GK dari sisi makanan, yaitu beras, rokok, daging ayam, cabe rawit, dan telur ayam. “Beberapa faktor yang menyebabkan kemiskinan di Bali yaitu adanya pandemi Covid-19. Pandemi berdampak pada perilaku dan aktivitas ekonomi dan pendapatan penduduk sehingga berdampak pada penambahan orang miskin,” tegasnya.

Baca juga:  Kasus Terus Naik Tajam, RSUP Sanglah Tambah Bed Isolasi COVID-19

Faktor berikutnya, kata dia, yaitu sektor pariwisata yang terpukul. Bali yang bertumpu pada pariwisata sangat terpukul dengan adanya pandemi Covid-19. Banyak pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berimbas pada semakin sulitnya masyarakat memperoleh pendapatan. Faktor pertumbuhan ekonomi triwulan III/2020 yang terkontraksi secara yoy -12,28%, faktor pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang juga terkontraksi -4,82%.

Hanif Yahya menambahkan, faktor inflasi juga mempengaruhi kemiskinan di Bali. Secara kumulasi inflasi dari Maret – September 2020 terjadi deflasi -1,08%. Sejalan dengan inflasi bulanan Denpasar yang mengalami deflasi -0,16% pada September 2020.

Tingkat pengangguran pada Agustus 2020 juga mempengaruhi tingkat kemiskinan di Bali karena pada waktu itu pengangguran meningkat 5,63%, naik tinggi dibanding Februari 2020 yang hanya 1,21%. Sementara itu, faktor Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2020 93,60. Angka NTP ini, selain di bawah 100, yang menandakan kesejahteraan petani, angka NTP ini juga lebih rendah dari Maret 2020 yang sebesar 97,10. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *