Pementasan seni gandrung di Pesta Kesenian Bali (PKB). (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) dipastikan kembali digelar pada 2021 mendatang. Mengingat tahun ini, agenda rutin PKB ditiadakan atau ditunda lantaran pandemi Covid-19.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan “Kun” Adnyana, Rabu (9/12), tahun depan, Bali sudah cukup siap mengelola event di situasi pandemi. Pelaksanaannya akan menggunakan sistem hybrid. “Dapat kita pastikan bahwa PKB 2021 akan tetap terselenggara dalam situasi apapun. Kita sudah belajar bagaimana mengelola event pada situasi pandemi,” ujarnya.

Dalam perencanaan, lanjut Kun, ditetapkan bahwa isian PKB 2021 memakai pola hybrid, yakni langsung atau luring (luar jaringan), daring (virtual), atau gabungan keduanya (luring dan daring). Pola tersebut seperti yang sudah diterapkan dalam event Festival Seni Bali Jani 2020.

Baca juga:  Belajar dari Internet, Warga Desa Ini Bangun PAM Berbasis Kincir Air

Tahun ini tidak saja dimanfaatkan untuk belajar mengelola event di tengah pandemi. Namun pihaknya juga melihat adaptasi luar biasa dari kalangan seniman Bali untuk tetap kreatif dan menghasilkan karya-karya bagus dengan menerapkan protokol kesehatan dalam proses penciptaannya. “Dan juga memakai piranti virtual dalam proses pergelarannya, penampilannya. Jadi sudah ada adaptasi,” imbuhnya.

Menurut Kun, PKB 2021 akan dilaksanakan mulai 13 Juni hingga 13 Juli. Tema yang diangkat memadukan tema PKB 2020 dan 2021 sekaligus, yakni Atma Kerthi dan Wana Kerthi. Penekanannya, hutan atau tumbuhan (wana) menjadi sumber jiwa (atma) untuk tetap memberi energi-energi positif sehingga kehidupan lebih harmonis.

Baca juga:  Okupansi Hotel Turun Drastis, Pangkas Jam Kerja dan Pengeluaran Dilakukan

Sedangkan bicara materi PKB, dikatakan tetap sama seperti sebelumnya. Mulai dari pawai, pergelaran, pameran, hingga penghargaan bagi para pengabdi seni. Kendati memang belum ditentukan, materi apa saja yang akan diadakan secara luring, daring atau gabungan keduanya.

“Belum, nanti kita lihat situasi 3 bulan sebelum hari-H. Kita bisa lihat dan evaluasi, yang intinya secara prinsip seniman atau pelaku seni di Bali itu siap untuk melakukan pola-pola penyajian baik luring maupun daring,” jelasnya.

Baca juga:  Pesilat Wisnu Jumpa Putra Cahyadi di Final

Kun menambahkan, manajemen penonton yang sejatinya menjadi tantangan terberat dalam pelaksanaan PKB ditengah pandemi. Sebab, penyaji atau pengisi acara masih bisa diatur seberapa yang tampil, bagaimana jarak di atas panggung, serta bagaimana protokol mereka saat berada di ruang rias dan sebagainya.

Sedangkan penonton lebih sulit diatur seperti itu karena yang dikelola adalah massa dengan jumlah tidak sedikit. Terlebih pada materi seperti gong kebyar, lomba baleganjur, dan termasuk saat pawai. “Terpenting adalah bagaimana kita mencermati betul situasi. Waktu yang efektif memang 3 bulan sebelum hari H untuk berhitung benar bagaimana mengelola kegiatan itu,” terangnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *