GIANYAR, BALIPOST.com – Sejumlah bencana terjadi akibat hujan lebat yang berlangsung pada Minggu (1/3). Paling parah jalan jebol dengan lebar 7 meter dengan panjang 50 meter di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh.

Akibat kejadian ini akses lalu lintas warga pun terputus, padahal jalan itu merupakan penghubung Pura Dalem Kauh, Pura Prajapati, dan Kuburan Tempekan Kelod Kauh, Desa Adat Saba.

Bendesa Adat Saba, I Gusti Ngurah Mahendradinata, SH saat ditemui, Senin (2/3) mengatakan Minggu malam sekitar pukul 22.00 wita pihaknya sempat melewati jalur tersebut, untuk mengecek perkiraan bencana. “Kala itu saya dapati air sudah meluap di sisi utara sampai ke jalan, padahal dalam di areal jurang itu dalamnya 10 meter,” ucapnya.

Baca juga:  Tunjukan Lencana Anti Korupsi Untuk Memeras, Dua Pelaku Diamankan

Malam itu pihaknya pun menduga gorong-gorong di bawah jalan itu tersumbat, sehingga pihaknya berencana mengerahkan buldozer untuk mengeruk sumbatan pada Senin. Namun tanpa diduga Senin pagi ia manerima telepon bahwa jalan dengan lebar 7 meter dengan panjang 50 meter itu sudah jebol. “Senin pagi saya di telepon, katanya jalan jebol, saat saya cek ternyata benar, sekarang jalur ini sudah putus,” katanya.

Bendesa Adat Saba ini menerangkan jalan desa tersebut dibuat sekitar 20 tahun lalu. Kala itu jalur dibangun secara swadaya oleh masyarakat. “Dulu itu merupakan jurang, warga di sini sering menyebut dengan aliran Pangkung Adegan Desa Adat Saba. Untuk menyeberang harus turun dulu, perlahan kami urug menggunakan sampah dan tanah sehingga selama lima tahun itu proses pembuatan oleh masyarakat,” papar mantan Kepala Desa Saba itu.

Baca juga:  Satu Lagi Nakes di Gianyar Tekonfirmasi Positif COVID-19

Ia pun mengaku jalan tersebut sebagai penghubung menuju Pura Dalem Kauh, Setra Adegan, dan Pura Prajapati. Diakuinya juga, jalan tersebut sering dipergunakan alternatif warga yang memiliki rumah di Tempek Kelod Kauh Desa Adat Saba dan petani hendak menuju sawah.

Sedangkan saat ini jalan itu jebol akibat dari tanah yang tidak bisa menahan beban air tergenang. Kejadian itu juga membuat warganya harus memutar arah kembali dengan jarak tempuh mencapai 1 kilometer. “Selain itu air yang mengalir di sana juga tidak separah sekarang ini. Sehingga airnya mengalir ke lubang di sisi jalan dan membuat tergerus. Akibat jalan yang putus warga yang memiliki rumah di sana dan para petani harus memutar arah yang mencapai sekitar 1 kilometer,” imbuhnya.

Baca juga:  Jebol, Jalan Utama Penghubung Selat-Rendang

Mahendradinata berharap pihaknya mendapatkan bantuan dalam perbaikan jalan atau diganti dengan sebuah jembatan. Dengan demikian warga pun tidak terlalu jauh untuk memutar arah. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN