Foto dokumen tradisi Mesuryak digelar Desa Bongan. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Sudah menjadi tradisi turun temurun, warga desa adat Bongan Gede Tabanan merayakan Kuningan dengan tradisi unik yang dikenal dengan nama “Mesuryak” pada Sabtu (29/2). Upacara menyebarkan uang yang kemudian diperebutkan warga ini diyakini sebagai pengantar para leluhur kembali ke alam surga.

Tradisi ini berlangsung secara turun temurun di Banjar Bongan Gede, Desa Bongan Kecamatan Tabanan. Bahkan disejumlah wilayah lainnya tradisi ini masih dilakukan sampai saat ini.

Entah kapan mulainya digelar tradisi ini, para tetua di Banjar Bongan Gede pun tidak mengetahuinya dengan pasti. Yang jelas tradisi ini sudah ada sejak dahulu kala dan tetap lestari hingga saat ini.

Baca juga:  Sempat Populer Tahun 30-an, Jangger Khas Menyali Kembali Dipentaskan

Setelah prosesi persembahyangan di masing-masing sanggah merajan selesai, banten upacara hari raya Kuningan yang merupakan symbol dari para leluhur dibawa ke kori agung rumah masing-masing. Di depan pintu atau kori, segala macam banten sesanjen diupacarai oleh pemangku ataupun tetua, kemudian dilanjutkan dengan prosesi mesuryak.

Memberi leluhur bekal berupa uang kertas maupun uang logam. Uang tersebut kemudian dilemparkan ke udara sambil mesuryak (bersorak) lalu diperbutkan oleh banyak orang laki perempuan anak anak dan dewasa.

Baca juga:  Kecantikan Gek Rempong Buat Penonton Takjub

Besaran uang yang digunakan mesuryak tergantung dari kemampuan warga.

Salah seorang Jro Mangku desa setempat mengatakan mesuryak bertujuan mengantarkan roh leluhur kembali ke sorga. Karena sebelumnya yakni pada hari Raya Galungan para leluhur  berada di rumah.

Setelah sepuluh hari tepatnya di hari raya Kuningan  diantarkan leluhur kembali ke sorga. “Kami antar dengan suka cita bergembira dengan bersorak sambil melemparkan uang ke udara yang diperebutkan banyak orang, jadi maknanya bukan berfoya-foya,” terangnya.

Dijelaskannya, jika sebelumnya menggunakan uang kepeng, karena perkembangan zaman uang yang digunakan adalah uang logam dan kertas asli. Hanya saja tidak sampai mengurangi makna.

Baca juga:  Kedatangan Pengungsi Berlanjut, Dua Tenda Dibangun di GOR Swecapura

Gayatri, salah satu peserta mesuryak mengatakan sangat menantikan moment ini di tiap hari raya Kuningan. Bocah cantik yang masih duduk di bangku SD mengatakan sangat antusias menunggu aba-aba mesuryak. “Senang saja, bisa pakai beli jajan uangnya,” ucapnya.

Besarnya uang yang digunakan dalam mesuryak bervariasi tergantung kemampuan ekonomi warga. Tradisi ini  ada secara turun-temurun itu tetap dilaksanakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Hari Raya Kuningan. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN