Workshop seni lukis gaya Kamasan digelar di PKB 2019. (BP/lun)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dua orang warga negara asing duduk paling depan di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Art Center Denpasar, Senin (8/7). Mereka tampak serius menyimak penjelasan narasumber dalam workshop seni lukis gaya Kamasan, Klungkung serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41. Mereka sesekali minta penjelasan dari penerjemah yang duduk di sampingnya.

Sementara itu di tengah-tengah kalangan, narasumber Drs. I Made Yasana, M.Erg. menjelaskan sepintas tentang sejarah senirupa klasik gaya Kamasan, kemudian menunjukkan teknik pembuatan gambar wayang klasik Bali. Mulai dari pembuatan mata, alis, hidung, mulut, kumis, muka, hiasan telinga, gelung, perut atau badan dan gelang kana.

Baca juga:  Jadwal PKB, Minggu 16 Juni 2019

Selain Made Yasana, tampil narasumber yang pelukis wayang Kamasan, Mangku Wayan Muliarsa. Workshop tersebut dipandu dosen ISI Denpasar Ni Made Rinu. Mangku Muliarsa menyebut lukisan wayang Kamasan memiliki karakter dan pakem sendiri. Ini yang membedakan dengan lukisan pada umumnya.

Lukisan ini berkembang di Desa Kamasan secara turun-temurun. Bahkan, Mangku Muliarsa adalah keturunan pelukis wayang Kamasan.

Dikatakan, lukisan wayang Kamasan dibuat melalui proses yang cukup lama, dari pembuatan kanvas menggunakan kain blacu, sket lukisan, mewarnai dan nyawi. Warna yang digunakan dari bahan alami, salah satunya batu pere. Batu ini digosok sehingga menghasilkan warna tertentu.

Baca juga:  Kontingen Sumenep Bawa Kereta Hias

Diakui, warna alami ini bertahan berpuluh-puluh tahun. Itu ditunjukkan dari salah satu karya lukisnya yang dibuat sekitar 20 tahun lalu. Teknik pembuatan warna dari batu pere itu pun dijelaskan kepada peserta workshop. Termasuk asal muasal batu pere itu.

Kendati pesertanya tidak terlalu banyak, tetapi yang hadir memang betul-betul ingin mendapatkan wawasan baru tentang lukisan klasik gaya Kamasan. Mereka tampak serius menyimak penjelasan kedua narasumber.

Baca juga:  Sanggar Mudra Petang Kembalikan Pakem Drama Gong

Bahkan, sejumlah peserta bertanya banyak hal tentang lukisan gaya Kamasan, mulai dari keberadaan warna alami yang digunakan dalam lukisan itu, prospek perupanya, dan sebagainya. (Subrata/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.