Berko
Berko, gambelan khas Jembrana yang kian langka. (BP/olo)
NEGARA, BALIPOST.com – Salah satu kesenian langka yang lama terpendam di Jembrana adalah Berko. Gambelan berbahan bambu yang mengadopsi gong di wilayah Bali Timur ini mengalami masa jayanya pada tahun 1925-1935.

Seperti kesenian lainnya yang lebih terkenal seperti Jegog dan Makepung, kesenian ini muncul tidak terlepas dari budaya agraris masyarakat Jembrana. Kesenian yang memadukan gambelan bambu, tarian dan karawitan ini sempat tenggelam ketika Jepang masuk hingga beberapa dekade selanjutnya.

Kesenian yang berkembang di Lingkungan Dewasana, Kelurahan Pendem, Jembrana ini kembali diangkat pada tahun 1990 -an pada masa Bupati Jembrana Ida Bagus Indugosa. Kesenian ini mengesankan kesederhanaan masyarakat agraris dan alami. Seluruh bagian gambelan terbuat dari bambu, bahan baku yang mudah ditemui saat itu.

Baca juga:  Sekaa Gong Bangsing Bunut, Representasikan Kondisi Alam dan Kreativitas Pemuda Nusa Penida

Pemerhati Berko, I Wayan Dibia mengatakan kesenian ini muncul dan berkembang di Dewasana Mundukjati, beberapa tahun setelah para penglingsir membuka hutan untuk lahan bercocok tanam. Salah seorang sesepuh, Pan Muder mengisi waktu istirahat di gubuk tegalan dengan membuat gamelan sederhana berbahan bambu dengan laras durmo.

Disempurnakan

Bersama teman-temannya, gambelan itu kemudian disempurnakan seperti undir di bagian belakang, kecek hingga kendang serta suling. Gambelan ini sepintas menyerupai gong, hanya saja semua berbahan bambu dan suaranya terdengar agak sumbang atau bero.

Sebutan Bero inilah kemudian kesenian ini dinamakan Berko. Kesenian ini yang sering dimainkan di tegalan saat malam dengan penerangan bahan danyuh (daun kelapa). Berkembang memakai wajan penggorengan diisi minyak kelapa dan sumbu. Hingga saat ini, penerangan menggunakan wajan ini masih bisa dilihat saat pementasan Berko.

Baca juga:  Pidato Akhir Tahun, Gubernur Koster akan Jalankan Perlindungan Besakih

Popularitas Berko terdengar hingga ke Puri, sehingga mereka diundang untuk tampil. Dari sinilah kemudian gambelan berkembang dilengkapi tarian yang menyerupai legong dan joged bumbung.

Dalam setiap pementasan terdiri dari dua bagian. Pertama, tarian perkenalan dan penghormatan kepada penonton

maupun tamu disebut Byar Cebok. Dilanjutkan dengan bagian kedua berisi tari pergaulan atau Byar Gem. Dua orang penari wanita tampil berperan laki-laki. Tarian mengambil cerita Ramayana dengan tokoh Subali dan Sugriwa.

Baca juga:  Antisipasi Gelombang Ketiga Setelah Nataru, Pemerintah Siapkan Langkah Ini

Sebelum pentas dimulai, para penari melakukan perkenalan diiringi tabuhan. Kesenian ini memang sempat tenggelam di masa revolusi fisik. Kini kesenian ini masih dapat ditemui di Lingkungan Pancadawa, Kelurahan Pendem.

Belakangan kesenian yang masih berkembang di Pendem, kembali dihidupkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana. Dinas memberikan ruang kepada para seniman Berko untuk mementaskan kesenian ini.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, I Nengah Alit menyebutkan dinas sengaja mengangkat sejumlah kesenian yang nyaris tanpa pentas itu untuk menghidupkan kembali. Sejumlah potensi budaya dan alam di desa-desa, dieksplore lebih dalam termasuk di Pendem. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *