genggong
Salah satu warga di Penyaringan memainkan Genggong alat musik tradisional yang semakin terpinggirkan. (BP/olo)
NEGARA, BALIPOST.com – Selain alat musik tradisional preret, kesenian tradisional Genggong nyaris diambang punah. Kesenian yang berkembang di desa Penyaringan ini saat ini hanya segelintir pemain yang menggelutinya. Seriring waktu, alat musik dari bambu ini semakin terpinggirkan  kalah populer dengan alat musik modern.

Sempitnya ruang untuk unjuk gigi disamping regenerasi yang terbatas menjadi salah satu pemicu alat musik tradisional ini kurang berkembang. Hanya di momen tertentu, misalnya Parade Budaya Jembrana, kesenian ini tampil. Generasi saat ini baru segelintir orang yang berminat memainkan alat musik tiup ini. Salah satunya sekelompok warga yang berprofesi petani di banjar Penyaringan, Desa Penyaringan. Mereka mengaku menekuni musik tradisional sejak duduk di bangku SD. Mereka merupakan generasi yang tergabung dalam sekaha alat musik Genggong.

Baca juga:  Dari Kongres Kebudayaan Bali III, Anak-anak Makin Jarang Membaca Aksara Bali

Menurut sejumlah warga di Penyaringan, tidak sembarang orang bisa memainkan alat musik seperti ini.  Selain harus kuat bernafas juga memiliki insting untuk mencari nada supaya sesuai yang diharapkan. Irama yang didendangkan alat ini pun mengikuti irama jegog. “Idealnya ada 10 orang, termasuk yang mengiringi suling dan kletuk (penanda irama). Tetapi sekarang terus berkurang dan hanya satu dua saja,” tandas Gede Sumarwan, salah seorang pemain Genggong beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Musim Kemarau, Lima Banjar di Seraya Timur Krisis Air Bersih

Alat musik dengan bunyi yang khas ini menurut cerita tetua, berasal dari masyarakat agraris yang meniru suara kodok di sawah. Sehingga para petani membuat alat dari enau atau bambu yang dilubangi sedemikian rupa kemudian untuk menghasilkan bunyi. Lantas bamboo itu ditarik menggunakan tali. Hasil perpaduan renggangan bagian bambu/enau yang dilubangi dengan celah mulut menciptakan suara yang nyaring menyerupai suara kodok di sawah. Di depan bambu/enau itu terdapat tempurung kelapa yang dengan fungsi menutup mulut pemainnya. Kekuatan membunyikan alat musik ini pada jari yang menarik tali dan mulut. Tak jarang para pemula bisa mengalami kram.  Rata-rata Sekaa ini bisa memainkan hingga 30 menit.

Baca juga:  Tradisi Meketekan, Catat Jiwa Warga Secara Niskala

Kesenian ini berkembang di Penyaringan dan sering pentas mengisi acara manusia yadnya dan menyambut tamu. Bahan yang digunakan untuk mengeluarkan bunyi yang nyaring pun tidak sembarangan. Biasanya diambil dari bagian bambu yang sering gesekan dengan bambu lainnya. “Masih ada beberapa yang bisa membuat genggong ini, tetapi sebagian besar sudah lingsir (uzur). Kalau tidak ada penerus, mungkin akan punah,” tambahnya.

Para seniman alat music tradisional ini berharap ada perhatian dari pemerintah daerah agar budaya masyarakat agraris ini tidak terpinggirkan dan diambang batas (surya dharma/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *