Masyarakat Banjar Lebih Beten Kelod bergotong royong membersihkan endapan lumpur akibat banjir yang menerjang wilayah Desa Lebih. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Pemerintah Desa Lebih menangani dampak banjir yang kembali menerjang wilayahnya pada Minggu (1/11) malam sampai Senin (2/11) dini hari. Selain mengupayakan pembersihan endapan lumpur yang menutup akses jalan utama, permohonan kajian teknis hingga perbaikan penunjang infrastruktur penanggulangan banjir kini mulai diusulkan ke dinas terkait.

​Perbekel Desa Lebih, I Wayan Agus Muliana mengungkapkan rasa prihatinnya atas musibah banjir yang kembali melanda permukiman serta akses jalan warga. Menurutnya, langkah darurat di lapangan telah langsung dilakukan saat hujan deras berlangsung.

​”Kami turut prihatin wilayah kita kembali mengalami banjir. Kami sudah upayakan memperlancar aliran air di Tukad Demungan dengan membuka bendung air di depan Hotel Luwih, namun ternyata langkah itu saja belum cukup,” ujar Agus Muliana saat dikonfirmasi.

Baca juga:  Soal KBM Tatap Muka, Komisi IV DPRD Bali Minta Ini ke Disdikpora

​Ia menjelaskan, salah satu pemicu utama luapan air adalah keberadaan dua konstruksi jembatan yang dinilai terlalu rendah dan dangkal. Ketika arus sungai membawa material hanyutan saat hujan deras, jembatan tersebut rentan memicu penyumbatan total.

​”Perlu kami pikirkan untuk mengusulkan penataan dua jembatan agar dibuat lebih tinggi. Kedalamannya terlalu dangkal sehingga bila hujan deras dan terjadi sumbatan, air sudah pasti meluap dan memicu banjir,” tegasnya.

​Mengingat peristiwa ini sudah berulang untuk kedua kalinya, Pemerintah Desa Lebih akan bersurat resmi ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Gianyar untuk melakukan kajian teknis secara menyeluruh di sepanjang aliran Tukad Demungan.

Baca juga:  Dekranasda Bali Perkuat Promosi Kerajinan Lokal dan Dorong Pemberdayaan Perajin Bali

​”Kami akan upayakan permohonan ke Dinas PUPR terkait kajian banjir karena kejadian ini sudah dua kali terjadi. Setiap hujan deras, volume air jauh lebih besar daripada daya tampung sungai saat ini. Hal ini juga diperparah oleh penyempitan sempadan Tukad Demungan,” tambahnya.

​Untuk penanganan pascabencana, Agus Muliana telah berkoordinasi dengan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Gianyar guna memobilisasi armada pemadam kebakaran (damkar) atau alat penyemprot air bertekanan tinggi. Langkah ini mendesak dilakukan untuk menyingkirkan endapan lumpur tebal yang menyelimuti jalan utama.

Baca juga:  Hujan Deras, Jalan di Desa Sekumpul Longsor

​”Kami telah memohon bantuan armada mobil Damkar atau alat penyemprot lumpur pascabanjir tadi malam. Lokasi fokus pembersihan berada di Desa Lebih, khususnya wilayah Banjar Lebih Beten Kelod,” jelas Agus Muliana.

​Kondisi jalan yang tertutup endapan lumpur amat membahayakan para pengguna jalan karena licin dan berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas. ​Agus Muliana mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan dan tidak mengotori saluran air.

​”Kami mengimbau masyarakat agar selalu menjaga lingkungan bersama. Jangan pernah membuang sampah plastik ataupun sisa tebangan pohon ke aliran sungai. Kebiasaan tersebut menjadi pemicu utama tersumbatnya aliran air yang merugikan kita semua,” pungkasnya. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN