Penyelenggaraan Asia Pacific Self-Medication Industry (APSMI) Summit 2026 di Nusa Dua, Bali. (BP/kmb)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Perawatan kesehatan mandiri (self-care) semakin menjadi bagian penting dalam penguatan sistem kesehatan di kawasan Asia-Pasifik. Tidak hanya mendorong masyarakat lebih aktif menjaga kesehatannya, pendekatan ini juga memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan.

Penelitian Global Self-Care Federation mencatat, praktik perawatan kesehatan mandiri mampu menghemat biaya sistem kesehatan global hingga 144 miliar dolar AS setiap tahun.

Selain penghematan biaya, praktik tersebut juga mampu menghemat 2,20 miliar jam waktu dokter serta 13 miliar jam waktu perjalanan dan menunggu yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Perkembangan ini menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan Asia Pacific Self-Medication Industry (APSMI) Summit 2026 di Bali. Forum regional tersebut mempertemukan regulator, pemimpin kesehatan masyarakat, tenaga profesional kesehatan, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas penguatan praktik perawatan kesehatan mandiri di kawasan Asia-Pasifik.

Ketua APSMI, Rachmadi Joesoef, Jumat (30/10), mengatakan perawatan kesehatan mandiri telah memberikan kontribusi penting dan terukur terhadap sistem layanan kesehatan. Menurutnya, momentum perkembangan self-care di Asia-Pasifik perlu dimanfaatkan untuk memperluas praktik yang aman dan bertanggung jawab sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.

Baca juga:  Ratusan Warga Binaan Lapas Tabanan Jalani Skrining HIV

“Peluang saat ini adalah membangun momentum yang sudah berkembang di kawasan Asia-Pasifik untuk memperluas perawatan kesehatan mandiri yang bertanggung jawab dan kontribusinya terhadap hasil kesehatan yang lebih baik. Tidak ada satu pihak pun yang dapat melakukan ini sendirian. Kemitraan akan menjadi faktor penting untuk mempertahankan kemajuan,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari penyederhanaan regulasi dan mekanisme saling mengandalkan hasil penilaian regulator (regulatory reliance), perluasan akses obat bebas atau over-the-counter (OTC), hingga penggunaan obat yang telah beralih status menjadi obat bebas secara aman.

Pembahasan juga mencakup penerapan pelabelan elektronik (e-labelling), penguatan peran apoteker, serta penanganan persoalan resistensi antimikroba. Berbagai pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung masyarakat mengambil keputusan kesehatan berdasarkan informasi yang tepat dan bertanggung jawab.

Baca juga:  Seratusan Ribu WNA Ada di Bali, Overstay Timbulkan Kerugian Negara

Penguatan gerakan perawatan kesehatan mandiri di kawasan ini juga terlihat dari meningkatnya jumlah program yang dijalankan berbagai negara dan organisasi.
Sepanjang 2026 saja, sebanyak 81 inisiatif telah dilaporkan di 10 pasar oleh 17 organisasi.

Program tersebut meliputi literasi dan edukasi kesehatan, pengembangan teknologi dan solusi digital, kolaborasi pemerintah dan swasta, penguatan tata kelola self-care, serta pengembangan nilai ekonomi dan sosial dari perawatan kesehatan mandiri.

Praktik ini juga mendapat perhatian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ilmuwan sekaligus pimpinan bidang Self-Care WHO, Manjulaa Narasimhan, mengatakan pilihan perawatan kesehatan mandiri berbasis bukti sebagaimana direkomendasikan dalam pedoman global WHO semakin melengkapi layanan kesehatan berbasis fasilitas.

“Pilihan perawatan kesehatan mandiri ini juga menjawab tantangan utama kesehatan masyarakat di kawasan Asia-Pasifik dengan berkontribusi terhadap peningkatan literasi kesehatan, akses, pemerataan, serta kapasitas sistem kesehatan,” ungkapnya.

Baca juga:  Cegah Stunting, Badung Gencarkan Pemberian Paket Olahan Ikan Segar di Desa Pelaga

Selain memperluas program di tingkat masyarakat, penguatan kerja sama antarregulator menjadi bagian penting dalam mendorong perkembangan self-care di kawasan Asia-Pasifik.

Pertemuan di Bali menjadi ruang bagi para regulator untuk bertukar pengalaman, membahas tantangan, serta berbagi praktik terbaik. Hal ini sekaligus menjadi upaya memahami keberagaman lingkungan regulasi dan sistem layanan kesehatan di masing-masing negara.

Co-Chair Self-CARER sekaligus Direktur Office of International Regulatory Affairs, Pharmaceutical Safety Bureau, Ministry of Health, Labour and Welfare Jepang, Takayuki Okubo, mengatakan platform Self-CARER merupakan koalisi strategis yang menyatukan otoritas regulator, pakar kesehatan, dan Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI).

“Platform Self-CARER kami merupakan koalisi strategis yang menyatukan otoritas regulator, pakar kesehatan, dan Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI). Platform ini didedikasikan untuk menerjemahkan dialog berkelanjutan menjadi kemajuan nyata bagi masyarakat di seluruh kawasan,” katanya. (Sugiadnyana/denpost)

BAGIKAN