
DENPASAR, BALIPOST.com – Peragaan busana berbahan tekstil berkelanjutan yang digelar di Sira Village, Serangan, Denpasar, Rabu (28/10), meraih pencatatan rekor dunia Guinness World Records dalam kategori “The Most Sustainability-Certified Textile Clothing in a Fashion Show.”
Kegiatan bertajuk Labdanation Fashion Week Season III ini mengusung semangat kolaborasi dan keberlanjutan. Pelaku industri tekstil, desainer, institusi pendidikan, serta Industri Kecil dan Menengah (IKM) dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dipertemukan sebagai upaya mengembangkan industri fesyen dengan tetap memperhatikan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.
Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Tekstil (BBSPJI Tekstil) Kemenperin Hagung Eko Pawoko mengatakan pemerintah secara konsisten memfasilitasi pengujian di laboratorium serta sertifikasi industri hijau agar tekstil dalam negeri makin berdaya saing tinggi.
Langkah ini sekaligus menjadi dorongan bagi industri tekstil nasional dalam menghadapi tantangan maraknya produk pakaian bekas dan tekstil impor di pasar domestik.
Untuk melindungi produk tekstil dalam negeri, Kemenperin bersama para pemangku kepentingan bahkan sedang menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) Tekstil serta mendukung berbagai inisiatif penguatan industri domestik.
Selain itu, Kemenperin mengimbau industri fesyen dan tekstil dalam negeri untuk tidak saling beradu secara destruktif di pasar global maupun domestik, melainkan terus berkolaborasi mengoptimalkan potensi serat alam dalam negeri seperti katun dan rayon yang pasokannya dipastikan aman.
Ia menyampaikan bahwa ketersediaan bahan baku dalam negeri masih relatif aman. Namun, industri tetap menghadapi tantangan, termasuk kenaikan harga bahan baku impor yang sempat mencapai 40 persen.
“Kami berharap kondisi ini dapat membaik ke depannya, sehingga industri tekstil nasional semakin kuat dan tidak terlalu bergantung pada produk impor. Kami juga mendukung pengembangan produk tekstil dalam negeri agar semakin berkembang di pasar domestik,” ujarnya.
Sementara itu selaku penyelenggara, Direktur Operasional PT Labda Anugerah Tekstil, Wijaya Ng, menegaskan bahwa keberlanjutan dalam industri fashion tidak hanya berkaitan dengan produk akhir, tetapi juga mencakup proses produksi, kesejahteraan sumber daya manusia, dampak lingkungan, dan kontribusi ekonomi.
“Keberlanjutan itu sangat luas, mulai dari aspek sosial, ekonomi, hingga lingkungan. Bukan hanya produknya, tetapi juga bagaimana prosesnya dijalankan, bagaimana sumber daya manusia diperlakukan, dan bagaimana lingkungan dijaga. Melalui kolaborasi, kami berharap industri di Indonesia dapat saling melengkapi dan memperkuat, bukan saling menjatuhkan,” ujarnya.
Sebanyak lima brand lokal terlibat dalam peragaan busana ini, yaitu Murotto Bali, Kimmyra, IDB Bali, Unice, dan Novel Mice. Partisipasi IDB Bali, sebagai institusi pendidikan desain dan bisnis, juga menjadi bagian penting dari kolaborasi tersebut.
Keterlibatan institusi pendidikan diharapkan dapat membuka jalan bagi generasi kreatif untuk berkembang menjadi pelaku bisnis yang memahami standar dan peluang industri global. Busana yang ditampilkan menggunakan bahan serat alam, termasuk katun dan rayon.
Menurut pihak penyelenggara, 67 busana diperagakan memiliki hak kekayaan intelektual atas desain masing-masing. Melalui pendekatan ini, acara tidak hanya menyoroti inovasi tekstil berkelanjutan, tetapi juga pentingnya perlindungan karya kreatif para desainer.
Sebagai tuan rumah, Steven Seng, Direktur Sira Village, menyampaikan bahwa Sira Village ingin mendukung pertumbuhan ekosistem sustainable fashion melalui kolaborasi dan kesempatan bagi produk lokal untuk menjangkau konsumen.
“Kami ingin menyediakan ruang bagi sustainable fashion untuk berkembang melalui kolaborasi berbagai pelaku industri tekstil. Kami juga ingin membantu memperkenalkan dan memasarkan produk-produk fashion berkelanjutan kepada masyarakat yang lebih luas,” tegasnya.
Dengan memberikan ruang bagi produk dan brand yang mengedepankan keberlanjutan, ia berharap dapat mendukung pertumbuhan komunitas kreatif dan membantu para pelaku usaha lokal berkembang bersama,” ujar Steven Seng. (Ketut Winata/balipost)



