Gelombang tinggi melanda wilayah pesisir Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Masyarakat pesisir, nelayan, dan pelaku transportasi laut di Bali diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter di sejumlah perairan selatan Bali. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi pada 18 hingga 21 Oktober 2026.

“Peringatan dini ini berlaku mulai Minggu (18/10) pukul 08.00 WITA hingga Rabu (21/10) pukul 08.00 WITA,” ujar Prakirawan Cuaca BMKG Wilayah III Denpasar, Ariantika, Sabtu (17/10).

Baca juga:  Kabar Baik! Dua Hari Ini Pasien COVID-19 Sembuh Terus Bertambah di Atas 400

Diungkapkan, gelombang setinggi 2,5–4 meter berpeluang terjadi di Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, perairan selatan Pulau Bali, serta Selat Lombok bagian selatan. Sementara itu, gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian utara.

Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan risiko keselamatan pelayaran, terutama apabila disertai angin kencang. Berdasarkan kondisi sinoptik dalam informasi tersebut, angin permukaan di perairan utara Bali umumnya bertiup dari timur laut hingga selatan dengan kecepatan 4–25 knot. Adapun di perairan selatan Bali, angin bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 4–20 knot.

Baca juga:  Anggota MPR/DPR/DPD Periode 2019-2024 Resmi Dilantik

Dalam rekomendasi keselamatan pelayaran, perahu nelayan berisiko mengalami gangguan keselamatan apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Kapal tongkang berisiko apabila kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter.

Sementara itu, kapal feri berisiko terhadap keselamatan pelayaran apabila kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter.

Nelayan dan operator kapal diimbau memperhatikan perkembangan kondisi cuaca dan gelombang sebelum melaut atau melakukan penyeberangan. Pengambilan keputusan pelayaran perlu mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan, terutama di jalur perairan selatan Bali dan kawasan selat yang berpotensi mengalami gelombang tinggi. (Ketut Winata/balipost)

Baca juga:  Kasus Harian Melandai, Bali Masih Bertahan di Zona Kuning COVID-19
BAGIKAN