Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (16/10), bergerak melemah 89 poin atau 0,50 persen. Kurs Rupiah menjadi Rp18.027 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS..

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi suku bunga AS bertahan lebih lama.

Dia menyampaikan bahwa inflasi Amerika Serikat pada September 2026 meningkat menjadi 3,7 persen persen secara tahunan dari 3,4 persen pada Agustus, yang dinilai membuat pasar terus mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. “Jika suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ucapnya dilansir dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Pemasok Peledak Digerebek, Pengeboman Ikan di Selat Bali Tiarap

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dinilai juga menjadi perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia untuk impor energi. Melihat sentimen domestik, lanjut dia, pasar turut mencermati pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar yang berdiri sendiri.

Menurut Amru, perkembangan ini berpotensi mempengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia dan mendorong penyesuaian portofolio investasi asing. Namun, dampaknya terhadap rupiah belum dapat dipastikan secara langsung dan perlu dilihat bersama faktor lain, termasuk pergerakan dolar AS dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Baca juga:  Perbaiki Infrastruktur di 7 Lokasi, Badung Anggarkan 60 Miliar di APBD 2023

Di sisi lain, sejumlah indikator disebut menunjukkan fundamental ekonomi domestik masih memiliki penopang. Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 459,3 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan 5,6 persen secara tahunan.

Aliran masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) turut mendukung pembiayaan pemerintah. Sementara itu, penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan dan diprakirakan meningkat menjadi 1,4 persen pada September.

Baca juga:  Vaksin COVID-19 Mulai Diuji Coba ke Manusia

Ia mengatakan data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih terjaga, meskipun belum cukup untuk mengimbangi tekanan eksternal terhadap rupiah.

“Ke depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh arah dolar AS, ekspektasi kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik, serta dinamika arus modal asing. Perkembangan faktor-faktor tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menentukan arah rupiah selanjutnya,” ujarnya.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp18.052 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.948 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN