8 provider mulai manfaatkan SJUT di Sanur. Kabel udara akan diturunkan setelah jaringan bawah tanah terkoneksi dengan baik.(BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Setelah proses panjang, Sarana Jaringan Utilitas Terpadu dan Infrastruktur Pasif Telekomunikasi (SJUT-IPT) di kawasan Sanur, Denpasar mulai dimanfaatkan. Ada 8 provider internet yang mengawali pemanfaatan jaringan kabel bawah tanah tersebut. Pemkot Denpasar juga memberikan stimulus berupa keringanan tarif untuk mempercepat migrasi jaringan udara ke bawah tanah.

Direktur Utama Perumda Bhukti Praja Sewakadharma atau PD Parkir Kota Denpasar, I Nyoman Putrawan di Sanur, Kamis (15/10) mengatakan, 8 provider tersebut saat ini sedang berproses. Mereka menunggu respons dari pengguna layanan (pelanggan), seperti hotel, restoran, maupun pelaku bisnis lainnya, yang siap bermigrasi ke jaringan SJUT.

Sebelumnya pihaknya juga telah melakukan uji coba sebanyak dua kali. Saat ini, sistem jaringan terpadu tersebut telah menunjukkan kelayakan untuk memenuhi kebutuhan internet para pelaku usaha maupun masyarakat di kawasan Sanur.

Baca juga:  Dishub Tabanan Pastikan Tarif Parkir Belum Naik

Putrawan menjelaskan, kabel udara milik provider belum diturunkan karena proses migrasi harus dilakukan secara bertahap. Kabel lama baru akan diturunkan setelah jaringan baru terkoneksi dengan baik dan dipastikan dapat melayani pelanggan.

Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan layanan internet, termasuk munculnya wilayah tanpa akses atau blank spot akibat penurunan kabel yang dilakukan sebelum jaringan pengganti berfungsi optimal. Ia menegaskan, percepatan migrasi sangat bergantung pada kesiapan provider dan pelanggan.

Semakin banyak pelanggan yang menggunakan provider yang telah beralih ke SJUT, semakin cepat pula proses penataan dan penurunan kabel udara di kawasan Sanur dapat dilakukan.

Sebelumnya, koordinasi juga telah dilakukan dengan pelaku usaha sektor hospitality melalui fasilitasi forum hospitality di Sanur. Sejumlah pelaku usaha telah bersiap melakukan migrasi layanan internet agar proses penataan jaringan tidak mengganggu kegiatan operasional mereka.

Baca juga:  Candy Angelika Wijaya, DPO TPPU Ditangkap di Bali

Putrawan mengakui, pada tahap awal terdapat sejumlah kendala, terutama terkait keraguan provider dan persoalan tarif. Namun, kebijakan insentif fiskal yang diberikan Pemkot Denpasar dinilai memberikan dampak positif terhadap minat provider untuk bergabung.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan Pemkot Denpasar telah memberikan surat edaran mengenai stimulus keringanan tarif pelayanan kepada provider yang bergabung dalam SJUT. Di Sanur ada 16 provider yang beroperasi. Dari jumlah tersebut, 8 provider telah menyatakan bergabung, sedangkan delapan lainnya diharapkan segera menyusul. Kedelapan provider itu yakni InfraNexia, Iforte, Biznet, Linknet, Globalxtreme, Unifiber by Asianet, Fiberstar, dan Tower Bersama Group.

Baca juga:  Karena Ini, Pemilik Usaha Kuliner Belum Ditindak Terkait COVID-19

Pemkot Denpasar juga mendorong Perumda Bhukti Praja Sewakadharma untuk membangun skema kerja sama yang saling menguntungkan agar semakin banyak provider bersedia memanfaatkan fasilitas tersebut.

Terkait stimulus tarif, Arya Wibawa menjelaskan tarif awal sebesar Rp95.000 per meter diberikan keringanan Rp50.000 per meter. Sehingga provider dapat menikmati tarif Rp45.000 per meter selama masa stimulus.

Keringanan tersebut berlaku bagi provider yang melakukan pendaftaran hingga 31 Desember 2026. Sementara itu, provider yang baru mendaftar setelah periode tersebut akan dikenakan tarif normal sebesar Rp95.000.

“Ini stimulus dari pemerintah. Kami ingin mengajak seluruh provider yang ada di Sanur bersama-sama membangun Kota Denpasar, menciptakan wajah kota yang semakin cantik tanpa mengurangi pelayanan kepada masyarakat,” katanya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN