Suasana di RS Mata Bali Mandara. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Rumah Sakit Mata Bali Mandara adalah rumah sakit khusus mata sekaligus pusat rujukan pelayanan kesehatan mata untuk wilayah Indonesia Timur.

Direktur RS Mata Bali Mandara, dr. Ni Made Suryanadi, Sp.M(K)., mengatakan perkembangan rumah sakit tersebut berlangsung secara bertahap sejak awalnya tidak hanya memberikan pelayanan mata, tetapi juga THT serta kulit dan kelamin.

dr. Suryanadi mengatakan kunjungan pasien reguler didominasi peserta JKN. Rata-rata kunjungan mencapai sekitar 175-180 pasien per hari dan dalam kondisi tertentu dapat mencapai sekitar 200 pasien per hari. “Sekitar 80 persen pasien kita adalah pasien JKN,” katanya.

Ia menjelaskan, cikal bakal rumah sakit tersebut berasal dari RS Kusta yang berdiri sejak 1957. Dalam perkembangannya, layanan kemudian meliputi mata, THT serta kulit dan kelamin.

Setelah Bali mengalami Bom Bali pertama, kerja sama Pemerintah Australia melalui General Agreement Development Cooperation (GADC) melahirkan pengembangan layanan mata melalui proyek Australia Bali Memorial Eye Centre (ABMEC) di Jalan Angsoka Nomor 8 Denpasar.

“Seiring perkembangan, tahun 2013 kita menjadi BLUD, Badan Layanan Umum Daerah,” ujar dr. Suryanadi, Selasa (6/10).

Perubahan besar terjadi setelah RSUD Bali Mandara mulai beroperasi pada 2017. Pelayanan THT serta kulit dan kelamin kemudian dipindahkan ke RSUD Bali Mandara. Sejak saat itu, RS Mata Bali Mandara fokus sebagai rumah sakit khusus mata.

Baca juga:  Cerah Berawan, Cek Prakiraan Cuaca Bali 5 September 2025

Penguatan status kelembagaan terus berlanjut. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/I/0940/2020 tertanggal 26 Maret 2020, RS Mata Bali Mandara ditetapkan sebagai rumah sakit khusus mata kelas A.

“Jadi kita sekarang menjadi rumah sakit khusus mata. Layanannya terus berkembang,” katanya.

RS Mata Bali Mandara sebelumnya berstatus rumah sakit pendidikan afiliasi. Rumah sakit menjadi bagian dari jejaring pendidikan kedokteran untuk pelayanan kesehatan mata bersama Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Pada 2026, status tersebut berkembang setelah RS Mata Bali Mandara ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) oleh Kementerian Kesehatan. Dengan status tersebut, rumah sakit diproyeksikan memiliki peran lebih besar dalam penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit.

Selain pendidikan, RS Mata Bali Mandara juga menjadi salah satu rumah sakit pengampu regional untuk program pelayanan prioritas kesehatan mata Kementerian Kesehatan. Wilayah yang menjadi tanggung jawab pengampuan mencakup kawasan Indonesia Timur, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.

Suryanadi mengatakan jejaring tersebut mulai dibangun melalui kerja sama dan pendampingan dengan rumah sakit di sejumlah wilayah Papua. Di antaranya dengan rumah sakit di Papua Selatan yang berpusat di RSUD Merauke serta rumah sakit di Papua Pegunungan di Wamena.

Baca juga:  RS Mata Bali Mandara, Terbaik dalam Penghargaan Adhyasta Prajaniti

Untuk menopang berbagai layanan tersebut, RS Mata Bali Mandara saat ini memiliki 284 sumber daya manusia (SDM). Komposisi tersebut antara lain terdiri atas 14 dokter spesialis mata, dua dokter spesialis anestesi, satu dokter spesialis patologi klinis, satu dokter spesialis radiologi, dua dokter spesialis penyakit dalam dan 12 dokter umum.

Selain itu terdapat 119 perawat, dua perawat anestesi, tujuh apoteker, 34 tenaga kesehatan lainnya serta 90 tenaga manajemen.

Jumlah dokter subspesialis juga masih perlu diperkuat. Sebab, rumah sakit memiliki 14 klinik subspesialis dan seluruh layanan subspesialistik telah tersedia, namun jumlah dokter pada masing-masing layanan belum sepenuhnya ideal.

RS Mata Bali Mandara memiliki 14 klinik subspesialis, poliklinik anestesi dan dua poliklinik penyakit dalam. Rumah sakit juga dilengkapi diagnostic center seperti biometrik, Humphrey, electrodiagnostic, foto fundus, UBM, corneal topography dan IOL Master.

Untuk pelayanan laser tersedia retinal laser, multipurpose photocoagulation laser, argon laser, YAG laser serta LIO atau laser intraokular.

Pasien tidak hanya berasal dari Bali. RS Mata Bali Mandara juga menerima rujukan dari luar Bali, terutama dari wilayah Indonesia Timur, termasuk Lombok, serta kota-kota seperti Surabaya dan Jakarta.

Baca juga:  Ratusan Hewan Peliharaan dan Liar Divaksinasi

Layanan retina menjadi salah satu yang memiliki jumlah pasien cukup tinggi. Dalam sebulan, kunjungan pada layanan tersebut disebut dapat mencapai sekitar 5.000 pasien.

Untuk tindakan operasi, kapasitas pelayanan mencapai sekitar 30-40 tindakan per hari yang dilayani melalui layanan reguler maupun VIP.

Selain pelayanan JKN dan reguler, RS Mata Bali Mandara juga mengembangkan layanan medical tourism melalui Paviliun ABMEC atau Australia Bali Memorial Eye Centre.

Paviliun tersebut menyediakan layanan yang menyasar pasien domestik maupun mancanegara, antara lain eye medical check-up, eye rejuvenation, glaucoma center, vitreoretina center, myopia center, LASIK dan ReLEx Smile, hingga operasi mata lanjutan.

Pasien mancanegara yang datang saat ini terutama berasal dari Australia, disusul Rusia. Kunjungan pasien asing disebut sekitar 30 orang per bulan dan masih terus didorong untuk meningkat.

Australia menjadi salah satu pasar potensial karena adanya hubungan historis dengan pengembangan ABMEC. Selain itu, pasien dari negara tersebut dinilai memiliki pertimbangan biaya dan akses layanan ketika menjalani perawatan mata di luar negeri.

Untuk pasien domestik, RS Mata Bali Mandara juga menerima pasien dari Jakarta dan Surabaya, termasuk pasien yang membutuhkan tindakan lanjutan untuk penyakit tertentu. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN