Masyarakat di kawasan Banjar Patas dan Banjar Belong, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar menggelar ritual mohon hujan. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Kemarau panjang yang memicu kekeringan di kawasan Banjar Patas dan Banjar Belong, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, mulai membawa angin segar bagi para petani setempat. Setelah warga menggelar upacara adat Mendak Toya, hujan akhirnya turun membasahi lahan pertanian yang sempat retak-retak akibat krisis air.

Dampak musim panas sebelumnya sempat memicu kekhawatiran besar di kalangan petani Subak Patas dan Subak Belong. Lahan persawahan yang tanahnya mulai pecah-pecah mengancam keselamatan tanaman padi yang tengah memasuki fase pertumbuhan menjelang berbuah.

Menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu tersebut, krama subak menggelar ritual Mendak Toya di Pura Dugul (Pura Ulun Suwi). Upacara ini ditujukan sebagai permohonan secara niskala (spiritual) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar debit air irigasi tetap stabil dan hujan segera membasahi bumi.

Baca juga:  Bawa Senpi, Anak Mantan Dewan Jadi Tersangka

Secercah harapan pun hadir. Pada Minggu (4/10) petang, seusai rangkaian upacara berlangsung, hujan mulai mengguyur wilayah Desa Taro. Meski intensitasnya belum terlalu deras, kehadiran air hujan tersebut disambut penuh rasa syukur oleh warga.

Pekaseh Subak Patas, I Ketut Munjuk, menjelaskan ritual Mendak Toya merupakan tradisi turun-temurun sekaligus wujud bhakti warga dalam menjaga keseimbangan alam. “Upacara Mendak Toya ini merupakan bentuk bhakti dan permohonan kami agar air irigasi tetap mengalir, hujan segera turun, dan tanaman padi yang kami tanam diberikan keselamatan hingga panen,” ujar Munjuk.

Baca juga:  PDAM Badung Rancang Pemanfaatan Air Hujan untuk Antisipasi Krisis Air Bersih di Badung

Senada dengan Pekaseh, I Made Nuki, salah seorang petani Subak Patas, mengaku lega melihat hujan mulai membasahi sawahnya. Menurutnya, pasokan air sangat krusial agar tanaman padi tidak mengalami kerusakan permanen.

“Sawah sudah mulai kering, bahkan tanahnya sampai pecah-pecah. Setelah hujan mulai turun, kami tentu merasa lega dan bersyukur. Mudah-mudahan ini menjadi awal turunnya hujan secara berkelanjutan,” ungkap Nuki.

Di samping menjalankan upaya niskala, para petani tetap memadukannya dengan ikhtiar sekala (fisik). Perawatan tanaman terus dilakukan secara langsung, mulai dari pembersihan rumput liar hingga pengawasan terhadap ancaman hama tikus dan burung.

Baca juga:  Literasi Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Kini, warga Subak Patas dan Subak Belong berharap curah hujan terus stabil dengan intensitas yang cukup, sehingga pasokan air irigasi terpenuhi dan tanaman padi dapat dipanen sesuai harapan. (Wirnaya/balipost)

 

BAGIKAN