Penari tampil dalam peringatan Hari Puputan Badung ke 120 di Lapangan Puputan Badung IGN Made Agung, Denpasar, Minggu (20/9) malam. Tari kolosal dari kalangan muda-mudi se Kota Denpasar ini mengangkat tema "Mati Tan Tumut Pejah". (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sebanyak 1.000 muda-mudi se-Kota Denpasar membawakan tari kolosal bertajuk Mati Tan Tumut Pejah di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar, Minggu (20/9). Pementasan yang berlangsung sejak sore hingga malam hari itu menjadi bagian utama peringatan Hari Puputan Badung ke-120.

Pementasan tari kolosal tersebut berlangsung penuh penghayatan. Pementasan semakin kuat dengan dukungan tata cahaya yang dirancang untuk membangun atmosfer pertunjukan. Perpaduan gerak tari, musik, serta pencahayaan membuat panggung terbuka di Lapangan Puputan Badung menghadirkan suasana yang khidmat sekaligus dramatis.

Pementasan Mati Tan Tumut Pejah tidak sekadar menjadi pertunjukan seni. Tarian kolosal tersebut menjadi medium untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap perjuangan rakyat Badung pada 1906. Kehadiran sekitar 1.000 penari juga memperlihatkan keterlibatan generasi muda dalam merawat nilai sejarah dan budaya daerah.

Baca juga:  Jelang HUT Bangli, Ribuan Siswa Matangkan Formasi Tari Kolosal di Alun-Alun

Peringatan Hari Puputan Badung ke-120 diawali dengan apel bersama yang diikuti seluruh elemen masyarakat di Kota Denpasar. Setelah itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pementasan tari kolosal Mati Tan Tumut Pejah. Pada peringatan tahun ini, masyarakat juga disuguhi film tentang Perang Puputan Badung.

Semangat keberanian dalam mempertahankan harkat dan martabat menjadi pesan yang terus dihidupkan dalam peringatan tersebut. Dalam sambutan para Penglingsir Puri se-Kota Denpasar yang dibacakan Anak Agung Ngurah Agung Wira Bima Wikrama, masyarakat diajak kembali mengingat nilai perjuangan para leluhur.

“Hari ini kita hadir untuk memperingati sebuah sejarah perjuangan keberanian dan pengorbanan yang luar biasa, yang ditunjukkan oleh leluhur kita khususnya oleh raja dan rakyat Badung pada 1906. Puputan Badung bukan sekadar pertempuran. Itu adalah simbol dari tekad dan semangat juang rakyat Bali untuk mempertahankan martabat dan harga diri. Ketika harus mengorbankan nyawa, sebuah bentuk keberanian tidak ternilai, yang harus senantiasa kita kenang, kita pelajari, dan kita diwariskan kepada generasi muda,” kata Ngurah Bima.

Baca juga:  Bali Mestinya Tetap Jadi Ikon Nasional

Lebih lanjut, Penglingsir Puri Agung Denpasar mengajak masyarakat yang hadir di Lapangan Puputan Badung menjadikan momentum peringatan tersebut sebagai cermin untuk melakukan refleksi diri. Masyarakat diajak bertanya pada diri sendiri mengenai semangat juang dalam membangun daerah, menjaga nilai kebersamaan, pengabdian, dan keberanian seperti yang ditunjukkan para pahlawan.

Menurutnya, meskipun hidup pada zaman yang berbeda, tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini juga tidak mudah. Ancaman terhadap budaya, perpecahan sosial, penyalahgunaan teknologi, hingga krisis moral dinilai menjadi bentuk baru dari penjajahan.

“Untuk itu, semangat puputan harus tetap menyala dalam dada kita,” terang Penglingsir Puri Agung Denpasar.

Baca juga:  SIM Keliling di Bali 25 Juli 2026, Cek Lokasinya

Warisan sejarah tersebut diharapkan tidak hanya dirawat melalui kegiatan seremonial, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat diajak belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, mengabdi dengan sepenuh hati, serta menjaga persatuan dan kerukunan di tengah masyarakat.

Usai pementasan tari kolosal, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menghadirkan film dokudrama berjudul Puputan Badung 1906: Mati Tan Tumut Pejah. Film berdurasi sekitar 50 menit itu mengangkat kembali kisah perjuangan rakyat Badung ketika menghadapi kolonial Belanda melalui rekonstruksi sejarah yang dikemas dalam medium audiovisual.

Rangkaian peringatan Hari Puputan Badung ke-120 tersebut sekaligus menempatkan seni pertunjukan sebagai salah satu cara untuk mendekatkan sejarah kepada generasi muda. Melalui gerak seribu penari dan kisah yang diangkat dalam pementasan, semangat perjuangan Puputan Badung kembali dihadirkan di ruang publik Kota Denpasar. (Eka Adhiyasa/balipost)

BAGIKAN