
JAKARTA, BALIPOST.com – Ekonomi Indonesia diproyeksi tetap tumbuh kuat (resilien) pada semester II 2026 di tengah dinamika pasar keuangan global.
Sejumlah aktivitas yang mendukung resiliensi ekonomi ini adalah investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik yang masih solid, dan kebijakan pemerintah yang mendorong aktivitas ekonomi nasional.
Menurut Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Yansen Lokanata, pihaknya telah mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk memperkuat pasar valuta asing domestik.
Adapun, berbagai kebijakan itu diantaranya pengembangan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction), penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valuta asing, hingga implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).
Ia menjelaskan, kebijakan VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik.
Selain memperkuat daya tarik aset keuangan Indonesia, lanjutnya, kebijakan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar valuta asing domestik, memperbaiki transparansi transaksi, serta mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.
“Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta mendorong terciptanya pasar keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika global,” ujar Yansen dilansir dari Kantor Berita Antara.
Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz sepakat ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh kuat di tengah dinamika pasar keuangan dan ketidakpastian global.
“Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar Irman.
Irman mengatakan bahwa investasi asing langsung (FDI) terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, serta pengembangan pusat data (data center) yang mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
Di sisi lain, Ia mengingatkan tetap adanya berbagai risiko eksternal, diantaranya defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya seiring tingginya impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama.
Selain itu, lanjutnya, volatilitas pasar keuangan global dan perubahan arah kebijakan moneter negara maju berpotensi mempengaruhi pergerakan arus modal dan nilai tukar rupiah.
Namun demikian, ia juga menyebut BI terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan yang mendukung pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing domestik.
Ia menilai pasar valuta asing yang lebih dalam, likuid, dan berdaya tahan, semakin penting untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan perubahan arus modal internasional. (kmb/balipost)










