Tiga ruang kelas di SDN 3 Kalibukbuk roboh.(BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Tiga ruang kelas di SD Negeri 3 Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, mengalami kerusakan hingga akhirnya roboh pada Minggu (13/9), sekitar pukul 16.00 Wita. Bangunan yang telah berdiri sejak 1983 tersebut sebelumnya memang sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan dan sejak Juli tidak lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Kepala SDN 3 Kalibukbuk, Nyoman Sumitra, mengatakan tiga ruang kelas yang terdampak masing-masing digunakan untuk kelas IV, V, dan VI. Sebelum roboh, kondisi bagian atap bangunan sudah terlihat melengkung sejak Juni lalu. Pihak sekolah kemudian mengosongkan ruangan tersebut pada Juli untuk menghindari risiko terhadap keselamatan siswa.

“Kondisinya memang sudah lapuk. Sejak Juni atapnya sudah terlihat melengkung. Juli sudah kami kosongkan dan kegiatan belajar dipindahkan ke perpustakaan serta ruang guru,” ujarnya.

Tiga kelas tersebut masing-masing dihuni 27 siswa kelas IV, 24 siswa kelas V, dan 29 siswa kelas VI. Dengan demikian, terdapat sekitar 80 siswa yang sebelumnya menggunakan ruang tersebut. Sumitra mengatakan bangunan itu terakhir mendapat renovasi pada bagian atap pada 2019. Sementara konstruksi dinding bangunan menggunakan material kapur dan pasir.

Baca juga:  Hujan Deras, Rumah Tua Di Desa Banjar Roboh

Begitu melihat kondisi bangunan semakin mengkhawatirkan, pihak sekolah telah mengusulkan perbaikan kepada Dinas Pendidikan Buleleng. Namun, hingga bangunan roboh, proses pengusulan tersebut masih berjalan.

Kepala Dinas Pendidikan Buleleng, Ida Bagus Surya Bharata, saat meninjau lokasi, Senin (14/9), mengatakan pihaknya telah menerima laporan mengenai kerusakan bangunan tersebut. Untuk sementara, sekolah diarahkan melakukan penataan kembali kegiatan pembelajaran agar proses belajar siswa tetap berjalan.

“Yang pertama kami arahkan untuk melakukan pengaturan kembali pembelajaran siswa. Kemudian dilakukan pembersihan bersama, nanti dibantu komite, untuk merapikan sisa-sisa kerusakan agar tidak membahayakan,” katanya.

Baca juga:  Ruang Kelas, Guru dan Dunianya

Menurut Surya Bharata, pihaknya juga telah melaporkan kondisi tersebut kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan pimpinan untuk ditindaklanjuti. Perbaikan diusulkan masuk dalam anggaran induk 2027.

Namun, sebelum menentukan bentuk penanganan, kondisi fisik bangunan akan terlebih dahulu diasemen secara menyeluruh. Disdikpora Buleleng akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Buleleng untuk memastikan kelayakan bangunan, termasuk menentukan apakah kerusakan cukup ditangani melalui rehabilitasi atau membutuhkan penanganan teknis lainnya.

“Perbaikannya kita fokus kepada yang mengalami kerusakan. Tetapi satu unit bangunan ini tentu akan diasemen lagi. Kami akan koordinasi dengan Dinas PU secara fisik seperti apa kelayakan bangunan ini, apakah masih layak diperbaiki sebagian atau ada hal teknis lain,” jelasnya.

Terkait kegiatan belajar mengajar, Surya Bharata memastikan pembelajaran masih memungkinkan dilakukan dengan sistem satu sif. Kelas I dan II yang memiliki jam belajar lebih pendek akan diatur secara bergiliran, sementara kelas III hingga VI tetap mengikuti pembelajaran seperti biasa dengan enam hari sekolah.

Baca juga:  Longsor di Mengening Tewaskan Sekeluarga, Warga Diminta Waspadai Potensi Bencana Susulan

“Jika sewaktu-waktu diperlukan pengerjaan atau pembersihan di area sekolah, pihak sekolah diminta menyesuaikan pembelajaran, termasuk melalui pembelajaran daring atau dari rumah,”katanya.

Disdik juga meminta pihak sekolah meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa di sekitar bangunan yang mengalami kerusakan. Pembatas telah dipasang agar siswa tidak mendekati area tersebut, namun diminta diperlebar mengingat jumlah siswa di sekolah tersebut mencapai lebih dari 100 orang.

Pemerintah daerah menargetkan usulan tersebut dapat direalisasikan pada 2027 dengan mempertimbangkan proses penganggaran dan hasil asesmen teknis bangunan. “Besaran kebutuhan anggaran juga masih menunggu hasil perhitungan, apakah masuk kategori rehabilitasi atau pembangunan kembali,” tutup Surya Bharata. (Yuda/balipost)

 

BAGIKAN