
SINGARAJA, BALIPOST.com – Anjungan Desa Adat Tista yang berada di Desa Dapdap Putih, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, kini rampung dan siap menjadi destinasi baru untuk pengembangan wisata desa.
Kehadiran anjungan ini menjadi simbol nyata kekuatan kebersamaan, semangat gotong royong, dan kepedulian Putra Desa (Krama Pengampel) Desa Adat Tista yang berada di perantauan terhadap tanah kelahirannya.
Berada di jalur strategis lintasan Pekutatan–Dapdap Putih–Pupuan, Anjungan Desa Adat Tista menawarkan panorama alam perbukitan, lembah, dan hamparan perkebunan yang menjadi daya tarik tersendiri. Kawasan ini juga memiliki potensi wisata lain seperti jalur tracking, wisata spiritual penglukatan, serta kekayaan alam pedesaan yang masih asri.
Ketua Pengurus Putra Desa Adat Tista, I Gede Supariatna, mengatakan pembangunan anjungan merupakan bentuk nyata kepedulian Putra Desa dalam mengambil peran membangun desa adat.
“Membangun desa adat bukan hanya tugas prajuru atau kelompok tertentu, tetapi tanggung jawab seluruh krama adat. Putra Desa hadir bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian dari kekuatan desa adat dengan memberikan gagasan, tenaga, dan pemikiran untuk kemajuan bersama,” ujar Supariatna saat peluncuran Anjungan Desa Adat Tista, Sabtu (5/9).
Menurutnya, semangat menyama braya menjadi landasan utama dalam menggerakkan partisipasi Putra Desa dan krama pengampel untuk terus berkontribusi.
“Melalui kebersamaan ini, kami berharap Putra Desa dapat terus ikut meringankan beban krama adat, memikirkan kemajuan desa, serta menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya didampingi penasehat Putra Desa, Jro De Belong dan Komang Galung.
Tidak berhenti pada pembangunan anjungan, Putra Desa Adat Tista juga menggagas program penghijauan dengan target menanam 1.000 pohon cemara lilin secara bertahap di sepanjang jalan dan titik strategis kawasan desa.
Penasehat Putra Desa Adat Tista, Komang Edyanto atau Mang Galung, mengatakan gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan wajah baru Desa Adat Tista yang hijau sekaligus memperkuat daya tarik wisata.
“Penanaman cemara lilin ini bukan hanya untuk penghijauan, tetapi diharapkan menjadi ikon wajah Desa Tista. Pengembangan wisata desa harus didukung kesadaran masyarakat agar mampu membuka peluang ekonomi baru,” ujarnya.
Ia menilai potensi kawasan Busungbiu bagian atas sangat besar untuk dikembangkan, terutama dengan kekuatan alam, budaya, dan aktivitas masyarakat yang masih terjaga.
Bendesa Adat Tista, Jro Kadek Asoi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas peran Putra Desa yang telah menghadirkan sebuah anjungan sebagai bagian dari pengembangan potensi wisata desa.
“Tujuan pembangunan ini untuk mengangkat potensi pariwisata di wilayah Busungbiu atas. Banyak potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari sumber air suci atau beji, jalur tracking dengan panorama perbukitan, perkebunan, hingga keberagaman potensi lima desa adat di kawasan ini,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Dapdap Putih, I Gede Marjaya, mengapresiasi langkah Putra Desa Adat Tista yang dinilai menjadi contoh nyata keterlibatan generasi penerus dalam membangun desa.
“Saya merasa bangga dengan gagasan dan pemberdayaan potensi yang digerakkan oleh Putra Desa Adat Tista. Ini menjadi contoh bagi putra desa adat lainnya agar ikut berkontribusi membangun desa kelahirannya,” ungkapnya.
Menurutnya, kawasan lima desa di wilayah atas Kecamatan Busungbiu memiliki potensi alam luar biasa yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan.
Anjungan Desa Adat Tista diharapkan tidak hanya menjadi tempat persinggahan, tetapi menjadi ruang bersama untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya, tradisi, serta keramahan masyarakat Tista kepada masyarakat luas.
Ke depan, kawasan ini diharapkan mampu membuka peluang ekonomi kerakyatan melalui pengembangan produk lokal, kegiatan budaya, kreativitas masyarakat, hingga aktivitas wisata berbasis desa. (Suryaningsih/denpost)


