Fotografer, Darwis Triadi, berbincang di depan deretan foto Jokowi yang dipamerkan di Sudakara ArtSpace, Sanur pada Kamis (3/9). (BP/suk)

DENPASAR, BALIPOST.com – Setelah 25 tahun atau seperempat abad, maestro fotografi Indonesia, Darwis Triadi, kembali ke Bali untuk berpameran tunggal. Pameran foto Darwis Triadi bertajuk “A Portrait of Human Art” di Sudakara ArtSpace, Sanur, dibuka Kamis (3/9).

Pameran ini menjadi penanda kembalinya sang maestro menggelar eksibisi di Pulau Dewata setelah sekian lama. Sebanyak 40 hasil karyanya selama 10 tahun terakhir dipajang dalam pameran yang akan digelar hingga 3 Oktober 2026 itu.

Eksibisi ini memperlihatkan konsistensi dan komitmen Darwis yang telah mengabdi di dunia fotografi selama lebih dari empat dekade.

Dalam era di mana kemajuan teknologi, transisi digital, hingga Artificial Intelligence (AI), Darwis memilih untuk menyuarakan esensi fotografi murni.

“Mungkin fotografi saat ini sudah sangat berkembang, terutama dalam kaitan teknik yang mulai terikat dengan mesin atau AI. Yang saya lakukan ini betul-betul pure photography. Dari situ, yang mau disampaikan adalah sebuah visual yang terkait dengan energi dan rasa,” ungkap Darwis ditemui di sela-sela pelaksanaan eksibisi.

Baca juga:  ZenFone Zoom S, Smartphone Fotografi Dengan Dual Lens

Ia menambahkan bahwa fotografi akan selalu langgeng selama karya tersebut tetap bertaut erat dengan pilar kemanusiaan.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang mulai merambah dunia seni dan pencitraan visual, Darwis menegaskan bahwa esensi utama dari fotografi potret tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin.

Memilih Bali sebagai tempat pameran bukan tanpa alasan bagi fotografer kelahiran 1954 ini. Menurut Darwis, Bali memiliki atmosfer dan nuansa yang sangat hangat serta pas untuk memamerkan karya seni fotografi.

“Pameran di Bali suasananya lebih mengena menurut saya. Atmosfer dan tingkat energinya lebih bagus, sangat cocok untuk pameran seni seperti ini,” ujar Darwis.

Baca juga:  Sentuhan Kreativitas dalam Fotografi Perjalanan

Ia berharap pameran ini dapat terus mendorong apresiasi masyarakat terhadap seni fotografi agar bisa dihargai sejajar dengan cabang seni lainnya, seperti seni lukis.

Dari puluhan karya yang dipamerkan, Darwis menceritakan salah satu pengalaman paling berkesan dalam karir fotografi potretnya, yaitu saat memotret Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam pameran kali ini, tiga potret Jokowi ditampilkan di tengah-tengah ruangan, menjadi pembeda dari foto-foto karya Darwis yang dipajang di dinding.

Berbeda dengan foto kenegaraan atau potret kepala negara pada umumnya yang cenderung formal dan kaku, Darwis mengaku memperoleh kebebasan penuh untuk mengeksplorasi seni potret saat mengambil foto Presiden Jokowi.

Baca juga:  Gubernur Koster Instruksikan Perayaan Tumpek Krulut dengan Jana Kerthi

“Salah satu kepala negara yang bisa saya buat sebagai seni fotografi potret (art photography portrait) ya baru beliau (Presiden Jokowi). Saya bisa melakukan eksplorasi secara bebas dan memiliki banyak waktu. Itu kesempatan yang luar biasa bagi saya,” kenangnya.

Sementara itu, Wayan Suwastana, Commercial Director Sudamala Resort, menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan oleh sang maestro.

“Ini akan sangat menginspirasi kami semua, teman-teman fotografer di Bali, maupun mereka yang sangat mencintai Pak Darwis. Beliau adalah maestro kita, bapak dari fotografi Indonesia,” tutur Suwastana.

Ia pun mengatakan pihaknya secara konsisten menyediakan galeri seni sebagai ruang kolaborasi berkala, baik pameran foto, lukisan, maupun ruang dialog, guna mendukung komunitas lokal (local community) serta memajukan ekosistem seni di Bali. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN