Rumah tua Residen Soenda Ketjil kini jadi ruang kuliner dan sejarah. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Rumah tua yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1912 dan pernah menjadi rumah jabatan Residen Soenda Ketjil pada masa pemerintahan kolonial Belanda, kini kembali hidup. Bangunan bersejarah di Kota Singaraja itu dimanfaatkan menjadi Warung Soenda Ketjil, ruang kuliner yang tetap mempertahankan bentuk asli dan berbagai benda peninggalan di dalamnya.

Bangunan tersebut menjadi salah satu jejak pemerintahan kolonial Belanda di Singaraja yang ketika itu merupakan pusat pemerintahan wilayah Soenda Ketjil. Salah satu tokoh yang pernah menempati rumah tersebut adalah I Gusti Bagus Oka. Setelah itu, bangunan tersebut dihibahkan kepadanya dan kemudian menjadi bagian dari aset keluarga yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu owner Warung Soenda Ketjil, Ida Ayu Wardhany Sutjidra ditemui beberapa lalu mengatakan pemanfaatan rumah tua tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan ruang publik di tengah Kota Singaraja yang tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga memberikan pengalaman mengenal sejarah.

Menurut Wardhany, keberadaan ruang untuk bersantai, berkumpul, maupun menikmati makanan dan minuman masih dibutuhkan masyarakat. Kesempatan memanfaatkan bangunan tersebut muncul setelah pemilik rumah, yang merupakan teman Wardhany sejak sekolah, mempercayakan pengelolaannya.

Baca juga:  Tanah Longsor dan Pohon Tumbang di Ubud dan Tampaksiring

Wardhany kemudian mengusulkan agar rumah tersebut dimanfaatkan sebagai restoran dengan konsep heritage. Gagasan itu mendapat persetujuan dengan sejumlah syarat, terutama bangunan tidak boleh diubah dan benda-benda peninggalan yang ada di dalamnya tidak boleh dipindahkan. “Permintaannya tidak boleh mengubah bentuk asli, tidak boleh melakukan pemindahan barang-barang yang sifatnya barang peninggalan,” ujarnya.

Karena itu, berbagai bagian asli rumah tetap dipertahankan. Foto-foto lama, kursi, meja, hingga sejumlah perabot yang telah berada di dalam rumah sejak dahulu masih ditempatkan sebagaimana mestinya. Penambahan dilakukan secara terbatas, terutama lampu untuk penerangan dan sejumlah kursi tambahan. “Apapun yang ada di sini saya coba kelola secara heritage. Kursi-kursi ini juga kursi zaman dulu. Tidak ada yang diubah,” katanya.

Saat ini, Warung Soenda Ketjil memiliki sekitar 60 tempat duduk. Kapasitas tersebut masih berpeluang bertambah dengan memanfaatkan area taman ketika kondisi sudah lebih teduh. Tidak hanya untuk bersantap, bangunan dan halaman rumah juga terbuka untuk berbagai kegiatan masyarakat sepanjang tidak mengganggu atau merusak bangunan serta benda-benda bersejarah yang ada. Kegiatan seperti sesi foto, pembuatan konten, ulang tahun, hingga pernikahan dalam skala tertentu dapat dilakukan di lokasi tersebut.

Baca juga:  Dari 38 Ribu Penerima Asimilasi, Yang Kembali Lakukan Kejahatan di Bawah 0 Persen

Wardhany menilai pemanfaatan bangunan untuk berbagai kegiatan justru dapat membantu memperkenalkan sejarah rumah tersebut kepada masyarakat yang lebih luas. Pengunjung yang datang tidak hanya menikmati suasana dan kuliner, tetapi juga dapat melihat langsung sejumlah peninggalan yang masih tersimpan. “Kemarin juga ada orang-orang tua datang ke sini untuk foto, ada yang bikin TikTok. Justru saya senang karena mereka sambil melihat budaya, melihat sejarah,” tuturnya.

Di dalam rumah juga tersimpan sejumlah dokumentasi sejarah, termasuk foto-foto lama yang berkaitan dengan Singaraja dan kawasan Soenda Ketjil. Salah satunya berupa dokumentasi Titik Nol Singaraja pada masa lalu.

Dari sisi kuliner, Warung Soenda Ketjil mengandalkan menu Nusantara dengan sentuhan khas Buleleng. Menu klasik seperti nasi goreng, soto, rawon, serta sejumlah hidangan bercita rasa Nusantara disajikan kepada pengunjung.

Baca juga:  Tari Legong Mendunia, Simak Sejarah dan Makna di Balik Tarian Ini

Konsep menu tersebut sengaja disesuaikan dengan karakter bangunan yang mengusung tema heritage. “Menu klasik, tapi nanti tergantung chef. Untuk sekarang akan lebih banyak Nusantara karena kita harus konsisten dengan awal bahwa itu adalah heritage,” kata Wardhany.

Pilihan menu masih terbuka untuk dikembangkan sesuai permintaan pengunjung. Hidangan bergaya Western maupun Chinese juga berpeluang ditambahkan pada waktu tertentu. Menariknya, keberadaan Warung Soenda Ketjil mulai menarik perhatian wisatawan mancanegara. Sejumlah wisatawan, termasuk warga Belanda, disebut mulai datang untuk menikmati suasana bangunan tua tersebut sekaligus bersantap.

Bagi Wardhany, kehadiran pengunjung menjadi tanda bahwa bangunan yang sebelumnya cenderung sepi kini kembali memiliki aktivitas. Pemanfaatan tersebut diharapkan membuat keberadaan rumah bersejarah itu semakin dikenal tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat di dalamnya. “Syukurlah ada Residence Soenda Ketjil sehingga ada tempat buat masyarakat Buleleng untuk santai sambil melihat dan mengenang budaya yang ada di Residence Soenda Ketjil ini,” ujarnya. (Yuda/balipost)

BAGIKAN