Tim pengabdian dan mitra PISN. (BP/Istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Upaya menjaga keberlanjutan seni tradisi di tengah perubahan sosial dan teknologi diwujudkan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) melalui revitalisasi Rejang Keraman di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Program ini menjaga bentuk dan ritus warisan leluhur sekaligus memastikan pengetahuan budaya tetap hidup lintas generasi.

Tari Rejang Keraman merupakan tari sakral dalam upacara keagamaan desa adat yang melibatkan perempuan dan laki-laki secara setara, mencerminkan kebersamaan dan kesetaraan.

Namun, pewarisannya masih mengandalkan transmisi lisan dan praktik langsung, sementara generasi muda semakin akrab dengan pembelajaran visual dan digital. Keterbatasan media pembelajaran berpotensi menyebabkan penyederhanaan gerak, kurangnya pemahaman pola lantai, serta melemahnya pemaknaan simbolik.

Baca juga:  Pendaftaran Kepala Sekolah Ditutup, 66 Kursi Masih Lowong

Melalui PISN, tim pengabdian memadukan praktik tradisi dengan media audiovisual. Video pembelajaran dikembangkan bukan sekadar dokumentasi, melainkan media alih pengetahuan untuk memahami struktur gerak, pola lantai, konteks, dan makna simbolik secara terarah.

Teknologi menjadi pendukung pewarisan sehingga generasi muda tetap belajar dari penari senior sekaligus dapat mengulang materi secara mandiri.

Program melibatkan Kelompok Seni Kencana Jaya Paksi sebagai mitra yang memiliki sumber daya dan pengetahuan empirik tentang Rejang Keraman. Kolaborasi memadukan pengetahuan lokal dengan teknologi tanpa menghilangkan otoritas masyarakat sebagai pemilik budaya.

Baca juga:  Seluruh Desa di Denpasar Endemis DBD

Kegiatan yang telah terlaksana yakni pada bulan Mei diisi koordinasi tim, sosialisasi, identifikasi kebutuhan, pemetaan masalah, dan penyusunan materi. Juni–Agustus meliputi pelatihan tahap I dan II, perekaman gerak, dokumentasi, pengolahan media interaktif, serta uji pemanfaatan dalam latihan. Inovasi tersebut mendukung regenerasi, dokumentasi budaya, dan adaptasi teknologi sekaligus sejalan dengan Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan.

Baca juga:  Masih Berpotensi Hujan-Angin Kencang, Cek Prakiraan Cuaca Bali Pada 6 Maret 2026

Tim menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui BIMA dan skema PISN atas dukungan yang memungkinkan perguruan tinggi memberikan sumbangsih. Apresiasi juga disampaikan kepada masyarakat Desa Kedis, pelaku seni, pemangku kepentingan adat, dan Kelompok Seni Kencana Jaya Paksi.

Program dilaksanakan Prof. Dr. Ni Luh Sustiawati sebagai ketua, Dr. I Nyoman Larry Julianto dan Dr. I Gusti Putu Sudarta sebagai anggota. Tari Rejang Keraman diharapkan terus hidup, dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan sebagai pengetahuan. (Adv/balipost)

BAGIKAN