Tokoh Pers, Widminarko menjelaskan sejarah dan kiat-kiat menjadi jurnalis pada Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali di Gedung PWI Bali, Kamis (20/8). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Fakta mutlak menjadi fondasi utama dalam setiap karya jurnalistik dan tidak boleh digadaikan oleh kepentingan apa pun. Penegasan tersebut mengemuka dalam Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali di Gedung PWI Bali, Kamis (20/8).

Kegiatan yang fokus pada penguatan profesionalisme pers ini diikuti ratusan wartawan media cetak dan elektronik se-Bali ini menghadirkan tokoh pers, Widminarko.

Dalam materinya, pria yang akrab disapa Pak Wid ini menegaskan bahwa kebenaran informasi merupakan hal yang wajib dijaga setiap jurnalis. Di tengah tantangan industri media modern yang juga berfungsi sebagai entitas bisnis, nilai idealisme tidak boleh pudar.

Baca juga:  Mengenang Dedikasi Tokoh Pers Atmakusumah Asraatmadja

“Karya jurnalistik itu dasarnya harus fakta,” tegas Pak Wid di hadapan ratusan jurnalis peserta orientasi.

Menurutnya, fakta yang valid adalah sesuatu yang nyata dan dapat dibuktikan serta dirasakan oleh panca indera. Dalam dunia jurnalistik, data tersebut dikelompokkan menjadi tiga tingkatan, yaitu fakta primer, sekunder, dan tersier. Seluruh tingkatan fakta ini wajib melewati proses verifikasi yang ketat sebelum disajikan kepada masyarakat luas.

Baca juga:  Peringatan HPN Provinsi Bali, K. Nadha Dianugerahi PWI Bali Nugraha

Selain itu, Widminarko juga membagikan resep urgen bagi generasi muda pers untuk mencapai kesuksesan berkarir menjadi wartawan. Ia menekankan enam kemampuan dasar yang harus diasah secara konsisten oleh seorang jurnalis andal.

Kiat sukses tersebut meliputi gemar membaca untuk memperluas wawasan. Gemar mendengar guna menangkap aspirasi publik. Gemar menonton untuk memperkaya visualisasi serta perspektif. Gemar mencatat demi menjaga akurasi data lapangan. Gemar mendokumentasikan sebagai bukti otentik peristiwa. Dan gemar mendiskusikan setiap fenomena sosial guna menghasilkan analisis berita yang tajam.

Baca juga:  Dari Jokowi Batal Hadiri “Groundbreaking,” hingga Aliansi Bali Jengah Gelar Demo

Melalui penerapan enam kebiasaan tersebut, wartawan diharapkan mampu memproduksi berita yang tidak hanya berbasis fakta kuat, namun juga memberi dampak positif bagi publik. (Eka Adhiyasa/Balipost)

BAGIKAN