Wartawan senior Widminarko (kanan) menjadi narasumber dalam OKK PWI Provinsi Bali, di Gedung Sekretariat PWI Bali, Denpasar, Kamis (20/8). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Wartawan senior Widminarko membagikan pengalaman dan prinsip jurnalistik yang dijalaninya selama 56 tahun kepada peserta Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Provinsi Bali, Kamis (20/8). Di hadapan 102 wartawan dari berbagai media massa di Bali, Widminarko menekankan pentingnya niat, independensi, kedekatan dengan masyarakat, serta pemahaman terhadap bisnis media.

OKK PWI Bali digelar selama dua hari, Kamis-Jumat (20-21/8), di Gedung PWI Bali, Denpasar. Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Wartawan Profesional, Berintegritas, dan Berkomitmen terhadap Etika Jurnalistik melalui Penguatan Organisasi PWI” tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi anggota dan calon anggota PWI untuk memperkuat pemahaman mengenai profesi kewartawanan sekaligus organisasi PWI.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah materi yang disampaikan Widminarko. Wartawan yang telah berkecimpung selama puluhan tahun di dunia pers itu tidak hanya memaparkan sejarah pers dan perjalanan PWI, tetapi juga mengajak peserta memahami dunia jurnalistik melalui pengalaman panjangnya sebagai wartawan.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai sejarah pers, fungsi pers sebagai salah satu pilar demokrasi, serta perjalanan organisasi PWI. Widminarko kemudian mengisahkan perjalanan karier jurnalistiknya sejak pertama kali terjun ke dunia pers.

Ia mengawali perjalanan sebagai wartawan di Suara Indonesia, yang kemudian menjadi Suluh Indonesia edisi Bali dan selanjutnya berubah menjadi Suluh Marhaen edisi Bali. Pada 1 Mei 1968, ia dipercaya menjadi penanggung jawab Suluh Marhaen edisi Bali yang saat itu berafiliasi dengan PNI.

Baca juga:  Ketua IKWI Bali yang Pertama Berpulang

Menurut Widminarko, kondisi pers pada masa tersebut jauh berbeda dengan situasi sekarang. Media massa ketika itu memiliki keterkaitan atau afiliasi dengan kekuatan tertentu, mulai dari partai politik hingga ABRI.

Dari pengalaman panjang tersebut, ia menemukan sejumlah prinsip yang dinilai penting dimiliki setiap wartawan.

Pertama, niat dan semangat. Widminarko menegaskan, menjadi wartawan tidak selalu membutuhkan modal besar. Menurutnya, modal terpenting adalah niat, semangat, serta kemauan untuk terus belajar.

“Bekal satu-satunya niat dan semangat menjadi wartawan. Ternyata bekal ini sangat manjur. Akhirnya saya bisa menjadi wartawan dan baru pensiun dari Bali Post tahun 2021. Selama 56 tahun menjadi wartawan, bekal saya adalah niat dan semangat untuk terus belajar,” ujar Widminarko yang kini berusia 84 tahun.

Kedua, menjaga independensi. Bagi Widminarko, independensi merupakan prinsip yang tidak boleh ditawar. Wartawan harus mampu menjaga jarak dari kepentingan politik praktis agar dapat menjalankan fungsi jurnalistik secara objektif.

Ia mengenang pengalamannya ketika menjadi wartawan sekaligus penanggung jawab Suluh Marhaen edisi Bali. Saat itu, ia pernah mendapat teguran dari induk partainya setelah memberitakan iring-iringan Golkar yang mendapat sambutan antusias dari masyarakat Bali.

Baca juga:  Cerdas Cermat Bulan Bung Karno PDIP Bali Diikuti Belasan Perguruan Tinggi

“Waktu itu kami tidak boleh melenceng dari garis partai. Saya ditegur karena Suluh Marhaen memberitakan iring-iringan Golkar yang disambut antusias. Bagi saya, itu adalah fakta. Tetapi dilarang memberitakannya,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan jurnalistiknya. Ia kemudian memilih untuk menjadi wartawan yang independen dan tidak terlibat dalam politik praktis.

“Dari kejadian itu saya ingin menjadi wartawan independen, tidak terlibat politik praktis. Kalau terlibat politik praktis, bisa dilematis,” katanya.

“Itu poin kedua, wartawan harus independen,” tegasnya.

Ketiga, wartawan tidak boleh terasing dari masyarakat. Menurut Widminarko, wartawan perlu aktif dan berbaur dalam berbagai organisasi kemasyarakatan, termasuk banjar, organisasi kepemudaan, maupun lingkungan sosial di sekitarnya.

Keterlibatan tersebut, kata dia, penting agar wartawan memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, keberadaan wartawan tidak hanya sebatas menjalankan pekerjaan jurnalistik, tetapi juga memiliki makna di tengah masyarakat.

“Wartawan jangan asing di organisasi kemasyarakatan, agar ada makna keberadaan sebagai wartawan,” pesannya.

Baca juga:  Arus Mudik Tahun ini Diperkirakan Mencapai 16,85 Juta Orang

Keempat, memahami bisnis media. Widminarko juga mengingatkan wartawan agar tidak hanya menguasai kemampuan jurnalistik, tetapi memahami bagaimana perusahaan pers menjalankan bisnisnya.

Menurutnya, keberlangsungan kerja jurnalistik tidak dapat dilepaskan dari keberlangsungan perusahaan media. Karena itu, wartawan perlu mengetahui seluk-beluk bisnis media dan memahami aspek pemasaran.

“Wartawan harus tahu seluk-beluk bisnis media massa, harus bisa juga menjadi marketing. Jangan hanya mengandalkan gaji,” ujarnya.

Selain empat prinsip tersebut, Widminarko memberikan sejumlah kiat bagi wartawan untuk terus meningkatkan kapasitas. Ia mendorong wartawan agar gemar membaca dan menonton untuk memperluas wawasan.

Wartawan juga diminta membiasakan diri mencatat setiap informasi penting. Kebiasaan tersebut dinilai dapat membantu wartawan memperdalam pemahaman terhadap informasi yang diperoleh sekaligus memudahkan proses pengembangan bahan berita.

Tak kalah penting, wartawan harus rajin bertanya. Rasa ingin tahu, menurut Widminarko, merupakan modal penting dalam menggali fakta secara lebih mendalam sehingga karya jurnalistik yang dihasilkan semakin berkualitas.

Pesan-pesan tersebut disampaikan berdasarkan pengalaman panjangnya di dunia pers. Bagi peserta OKK PWI Bali, pengalaman Widminarko menjadi salah satu pembelajaran penting mengenai bagaimana profesi wartawan dijalankan dengan ketekunan, independensi, kedekatan dengan masyarakat, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan industri media. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN