
SINGASANA, BALIPOST.com – Rasa gugup dan kekhawatiran sempat menghantui Ni Putu Karista Yanti (16), sebelum menjalankan tugas sebagai pembawa baki Paskibraka Kabupaten Tabanan 2026. Namun, siswi kelas XI IPS SMAN 2 Tabanan itu akhirnya mampu menuntaskan tugas penting tersebut dengan lancar pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Alit Saputra, Senin (17/8).
Karista mengaku lega sekaligus bangga setelah prosesi penurunan bendera selesai. Sebab, sejak ditunjuk sebagai pembawa baki, pikirannya kerap dipenuhi kekhawatiran akan melakukan kesalahan.
“Saya bangga bisa menjadi pembawa baki. Walaupun saya selalu dihantui rasa overthinking karena khawatir saat bertugas ada yang salah,” ujar Karista.
Gadis asal Banjar Penarukan Kelod, Desa Penarukan, Kecamatan Kerambitan, ini bahkan sempat tidak percaya ketika dipercaya mengemban tugas tersebut. Namun, tanggung jawab membuatnya berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin.
“Awalnya tidak menyangka bisa menjadi pembawa baki. Saat ditunjuk sempat tidak percaya, kok bisa saya. Tetapi karena sudah menjadi tugas saya, saya harus siap,” katanya.
Untuk mengatasi rasa cemas, Karista mengandalkan latihan, doa dan dukungan dari rekan-rekan serta pelatih. Latihan yang dilakukan secara disiplin juga membuatnya semakin percaya diri. “Saya selalu berdoa, percaya diri dan bersemangat. Ditambah dukungan dari teman-teman dan pelatih,” ungkapnya.
Kerja keras selama latihan akhirnya terbayar. Setelah seluruh rangkaian tugas selesai, beban yang sebelumnya memenuhi pikirannya seolah hilang.
“Begitu selesai bertugas rasanya plong sekali, seperti tidak ada beban lagi,” tuturnya.
Karista merupakan anak pertama pasangan I Made Kardiana, seorang guru, dan Ni Made Surtiani, pegawai koperasi. Lahir 17 Januari 2010, Karista memiliki tinggi sekitar 170 sentimeter dengan berat 54 kilogram. Ia memiliki dua saudara.
Pengalaman menjadi bagian dari Paskibraka, terlebih dipercaya sebagai pembawa baki, menjadi pengalaman berharga bagi Karista. Kekhawatiran yang sempat muncul sebelum bertugas justru menjadi bagian dari proses yang membuatnya lebih percaya diri. “Saya berterima kasih kepada seluruh pihak karena upacara penaikan bendera sudah berjalan lancar,” ujarnya.
Seluruh anggota Paskibraka Tabanan sebelumnya menjalani pendidikan dan pelatihan secara terpusat dengan sistem karantina di Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) sejak 30 Juli hingga 17 Agustus 2026 malam. Pengasramaan dilakukan agar peserta dapat fokus mengikuti seluruh tahapan pelatihan.
Selama masa karantina, kegiatan peserta berlangsung padat dan disiplin. Rutinitas dimulai sekitar pukul 06.00 Wita dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan apel pagi dan pengecekan kehadiran. Peserta kemudian menjalani latihan intensif di Lapangan Alit Saputra hingga sekitar pukul 14.30 Wita sebelum kembali ke Rindam.
Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan pendidikan dan pelatihan. Pola tersebut dijalani secara konsisten hingga hari pelaksanaan upacara.
Bagi Karista, seluruh rangkaian latihan tersebut menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Ia pun membuktikan bahwa rasa gugup dan overthinking dapat dikalahkan dengan persiapan, doa, dukungan dan keberanian menjalankan tanggung jawab.(Puspawati/balipost)










