
DENPASAR, BALIPOST.com – Menjaga ingatan tentang leluhur tidak selalu dilakukan melalui upacara maupun tradisi. Bagi Perkumpulan Sosial Guang Fu (PSGF) Bali, cerita dalam film juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan kembali sejarah, nilai kehidupan, dan perjalanan masyarakat Tionghoa perantauan kepada generasi berikutnya.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan nonton bersama film “Dear You” yang digelar PSGF Bali di XXI Living World Denpasar, Kamis (13/8) sore. Seratusan lebih warga Bali keturunan Tionghoa hadir dan mengikuti pemutaran film tersebut.
Ketua PSGF Bali, So Tho Hemming, didampingi tokoh Hendra A. Waskita, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda hiburan. Film dipilih karena memuat kisah yang berkaitan dengan perjalanan masyarakat Tionghoa di perantauan, termasuk hubungan dengan keluarga, tanah leluhur, serta nilai-nilai yang diwariskan antargenerasi.
“Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan antaranggota, sekaligus menghadirkan ruang kebersamaan dalam mengenal lebih dekat nilai-nilai budaya dan sejarah Tiongkok yang tercermin melalui kisah dalam film tersebut,” ujar So Tho Hemming.
Menurutnya, kisah yang ditampilkan dalam “Dear You” memiliki kedekatan dengan pengalaman masyarakat Tionghoa yang meninggalkan tanah leluhur dan membangun kehidupan di tempat baru. Perjalanan tersebut menjadi refleksi mengenai bagaimana seseorang tetap dapat menghormati asal-usulnya sekaligus berkontribusi terhadap lingkungan tempat tinggalnya.
“Jadi suka duka dan sebagainya, menjadi cerminan kami dalam bersikap ke depan, yakni di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung seperti arahan leluhur, bisa bertumbuh kembang besar. Jadi tidak lupa dengan leluhur sendiri, tetapi juga wajib mematuhi membangun bersama di tempat tinggal yang baru,” katanya.
Ia menjelaskan, “Dear You” menghadirkan kisah keluarga yang terhubung dengan sejarah masyarakat Tionghoa perantauan di Asia Tenggara. Cerita berpusat pada perjalanan seorang cucu yang berusaha menemukan kembali jejak keluarganya serta mengungkap kisah masa lalu yang telah lama tersimpan.
Perjalanan tersebut membawa penonton pada tema cinta keluarga, perpisahan, pengorbanan, dan hubungan antargenerasi yang tetap terjaga meski dipisahkan jarak dan waktu. Bagi PSGF Bali, cerita semacam itu penting karena identitas budaya tidak hanya terbentuk melalui tradisi yang diwariskan, tetapi juga melalui cerita keluarga dan pengalaman hidup.
“Film ini mengangkat nilai-nilai kehidupan masyarakat Tionghoa perantauan, termasuk bagaimana hubungan dengan keluarga dan tanah leluhur tetap dipelihara dari generasi ke generasi,” tuturnya.
So Tho Hemming menambahkan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi anggota PSGF Bali untuk bertemu, berbagi pengalaman, dan membangun kedekatan di tengah kehidupan masyarakat Bali yang memiliki keberagaman latar belakang budaya.
Ia berharap nilai-nilai yang terkandung dalam film dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda agar tidak kehilangan hubungan dengan sejarah keluarganya.
“Nilai-nilai tersebut menjadi semakin bermakna ketika dapat dikenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena ketika sebuah budaya terus diceritakan, dikenalkan, dan diwariskan, maka nilai serta identitas yang ada di dalamnya akan tetap hidup dan memiliki makna bagi generasi selanjutnya,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, Mr. Zhengming, yang sekaligus membuka acara melalui opening speech sebelum film ditayangkan.
Kehadiran perwakilan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok dinilai turut memberi makna tersendiri bagi kegiatan tersebut, terutama dalam memperkuat komunikasi dan apresiasi terhadap kebudayaan Tiongkok di tengah komunitas masyarakat Tionghoa di Bali.
Zhengming mengatakan, film “Dear You” menggambarkan kehidupan masyarakat Tionghoa di perantauan yang datang ke tempat baru untuk membangun kehidupan dan usaha, namun tetap mempertahankan hubungan dengan tanah air dan akar budayanya.
“Film ini mengisahkan tentang orang Tionghoa di perantauan. Datang untuk membuka usaha, dan tetap menjaga hubungan dengan tanah airnya,” kata Zhengming.
Ia berharap pesan yang disampaikan melalui film tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok. Menurutnya, karya seni dan budaya dapat menjadi media untuk mempertemukan masyarakat dari dua negara melalui pemahaman terhadap pengalaman dan perasaan satu sama lain.
“Melalui film ini, diharapkan menjadi resonansi bagi persahabatan dua negara, yakni antara rakyat Tiongkok dengan Indonesia dalam memahami perasaan tulus,” ujarnya.
Zhengming juga menyinggung proses produksi film yang dibuat secara tradisional tanpa menerapkan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, perkembangan teknologi tidak menutup kemungkinan akan semakin banyak digunakan dalam industri film pada masa mendatang.
Namun, ia menilai teknologi tetap memiliki batas ketika berbicara mengenai kemampuan manusia dalam memainkan karakter dan menyampaikan emosi melalui akting.
“Ke depan, tidak menutup kemungkinan film juga akan memanfaatkan teknologi AI. Tapi yang paling penting, bagus atau tidak film ini adalah bagaimana para aktor melakukan perannya, karena itu yang tidak bisa digantikan dengan AI,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)




