
AMLAPURA, BALIPOST.com – Krisis air bersih masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Karangasem, khususnya ketika memasuki musim kemarau. Guna mengatasi persoalan tersebut, Kodim 1623/Karangasem kini tengah membangun sumur bor di sejumlah titik.
Komandan Kodim (Dandim) 1623 Karangasem, Letkol Inf. Putu Gede Widiarta, mengungkapkan, pembangunan sumur bor menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat, terutama di wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, diantaranya di Kecamatan Kubu, Selat, dan Karangasem.
“Bermula dari kesulitan warga di desa yang mengeluhkan ketersediaan air. Kadang warga harus membeli air 300 ribu per tangki. Kalau dekat mungkin 150 ribu per tangkinya. Dari situ kemudian kami melapor ke pimpinan untuk bangun sumur bor,” ujar Putu Gede Widiarta, Senin (10/8).
Widiarta mengatakan, saat ini, pihaknya tengah mengerjakan sekitar 10 titik sumur bor yang tersebar di sejumlah desa. Penerima manfaat dari pembangunan sumur bor rata – rata hingga 100 KK. Tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah, tetapi dipakai untuk pertanian dan peternakan.
“Keberadaan satu titik sumur bor diharapkan mampu memberi dampak yang luas terhadap kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Air sumur bor bukan untuk kebutuhan rumah tangga saja, tapi juga dimanfaatkan untuk pertanian, peternakan, dan kegiatan ekonomi warga lainnya,” katanya.
Selain membangun sumur bor, kata Widiarta, pihaknya juga terus berbagai program yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat. Memperkuat sinergitas dengan masyarakat dan pemerintah daerah dalam pembangunan dan menjaga stabilitas wilayah. Diantaranya pengembangan perekonomian warga, pembangunan infrastruktur pedesaan, penguatan ketahanan pangan dan kemanunggalan TNI bersama rakyat.
“Di bidang ekonomi, telah melaksanakan program strategi nasional. Adalah pembangunan fisik (Gerai) Koperasi Desa / Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Karangasem. Ada 9 KDKMP yang 100 % siap operasi. Sisanya masih dalam proses pembangunan. Keberadaan KDKMP jadi bagian upaya pemerintah dalam memastikan ketersediaan kebutuhan pokok di tingkat desa,” jelasnya.
Dia menjelaskan, selain menyediakan kebutuhan pokok, KDKMP juga akan berperan dalam menyerap hasil pertanian dan perikanan warga. Sehingga petani, nelayan dan pelaku usaha di desa memiliki akses pasar yang lebih menguntungkan. Koperasi dapat membantu mengurangi persoalan permainan harga hasil pertanian di tingkat petani.
“Selain penyediaan kebutuhan dan penyerapan hasil pertanian, koperasi nantinya diproyeksikan memiliki unit usaha simpan pinjam. Layanan ini diharapkan dapat memberikan alternatif pembiayaan terhadap masyarakat desa, terutama yang membutuhkan modal usaha di tengah maraknya pinjol serta praktek rentenir,” tandasnya.
Lebih lanjut dikatakannya, selain koperasi, TNI juga terlibat dalam pembangunan infrastruktur dasar masyarakat. Seperti Jembatan Garuda serta sumur bor. Sejumlah pembangunan jembatan telah diselesaikan, seperti di Desa Manggis. Sedangkan pembangunan lain masih berlangsung di tiga desa. Jelas dia, pembangunan Jembatan Garuda di beberapa titik bermula dari kebutuhan warga, terutama anak sekolah yang selama ini harus melewati sungai atau tempuh perjalanan lebih jauh karena tidak ada akses penghubung memadai.
“Ketika melihat anak – anak harus menempuh perjalanan jauh untuk bersekolah karena tidak ada jembatan, tentu kita merasa tersentuh. Dari situ kami memahami bahwa pembangunan jembatan ini merupakan tugas mulia. Mempermudah mobilitas petani, pedagang dan warga dalam menjalankan aktivitas sehari,”imbuhnya. (Eka Prananda/balipost)










