
SINGASANA, BALIPOST.com – Jembatan Yeh Ngigih yang menghubungkan Desa Pesagi, Kecamatan Penebel dan Desa Gadung Sari, Kecamatan Selemadeg Timur, yang dibangun kembali secara permanen terus berproses. Pembangunan jembatan yang lebih dikenal warga dengan sebutan Jembatan Sambuk itu kini progresnya mencapai 17,245 persen.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tabanan, I Gde Made Partana, mengatakan, progres pembangunan Jembatan Yeh Ngigih sudah di atas target atas rencana. Dimana dari pemantauan hingga minggu ke-12, realisasi pekerjaan sudah berada di atas target yang ditetapkan sebesar 15,827 persen. Artinya, pembangunan jembatan ini mengalami deviasi positif 1,418 persen. Pihaknya juga terus melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pekerjaan agar berjalan sesuai tahapan yang telah ditetapkan. “Progresnya sampai minggu ke-12 mencapai 17,245 persen, sedangkan rencana 15,827 persen. Jadi ada deviasi positif 1,418 persen,” ujar Partana, Selasa (4/8).
Dikatakannya, untuk proyek pembangunan jembatan tersebut disiapkan anggaran lebih dari Rp 6,1 miliar. Pekerjaan ini tentunya bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan konektivitas dan akses masyarakat antardesa. “Pekerjaan tetap kami pantau, termasuk progres dan pelaksanaannya di lapangan. Yang terpenting pekerjaan berjalan sesuai ketentuan dan kualitas konstruksinya tetap diperhatikan,” katanya.
Pembangunan jembatan ini dilakukan setelah akses penghubung kedua desa tersebut mengalami kerusakan akibat diterjang arus deras Sungai Yeh Ngigih. Jembatan dengan panjang sekitar 14 meter dan lebar tiga meter itu dilaporkan putus pada pertengahan Februari 2026.
Sebelumnya, jembatan tersebut juga sempat jebol pada 2024. Warga kemudian melakukan penanganan secara swadaya dengan menambal bagian jembatan menggunakan sambuk atau serabut kelapa yang membuat jembatan ini dikenal dengan sebutan jembatan sambuk. Upaya tersebut sempat memperkokoh kondisi jembatan sehingga masih dapat dilalui kendaraan berbagai jenis.
Namun, kondisi jembatan kembali tidak mampu bertahan setelah diterjang derasnya arus Sungai Yeh Ngigih. Putusnya jembatan sempat mengganggu akses dan mobilitas warga yang menggunakan jalur penghubung Desa Pesagi dengan Desa Gadung Sari.
Partana menambahkan, selain mengejar target penyelesaian, kualitas konstruksi tentu tetap menjadi perhatian dalam pelaksanaan pembangunan. Hal ini penting agar jembatan dapat digunakan secara aman dan mampu menunjang mobilitas masyarakat di kedua desa. “Tidak hanya mengejar progres, kualitas pekerjaan juga harus jadi perhatian sehingga hasil pembangunan nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)










