Siswa-siswa SMKN 2 Sukawati praktek perhotelan dan Kuliner. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Jurusan berbasis parhotelan, kuliner, dan hospitality masih menjadi pilihan utama calon peserta didik di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Provinsi Bali pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Tingginya minat tersebut terlihat dari dominasi sekolah yang membuka kompetensi keahlian pariwisata tersebut.

Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Dwi Suwariantha, S.ST., M.A.P., mengatakan dari total 166 SMK di Bali yang terdiri atas 58 SMK negeri dan 108 SMK swasta, sekitar 120 sekolah memiliki kompetensi keahlian berbasis hospitality dan pariwisata.

“Jurusan berbasis pariwisata, khususnya perhotelan dan kuliner, memang masih sangat diminati tahun ini. Ini menunjukkan sektor pariwisata masih menjadi magnet bagi lulusan SMP yang ingin melanjutkan pendidikan vokasi,” ujarnya di sela Diklat Sehari Guru Bahasa Inggris SMK Provinsi Bali, di Auditorium IPB Internasional, Kamis (23/7).

Menurutnya, tingginya minat tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK agar mampu bersaing di tingkat regional, nasional hingga internasional.

Baca juga:  Go-Food Festival Hadir di Bali

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat kompetensi Bahasa Inggris melalui kolaborasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris SMK Provinsi Bali.

Ia menegaskan penguasaan bahasa asing merupakan salah satu keterampilan utama yang harus dimiliki lulusan SMK, khususnya pada bidang hospitality yang berhadapan langsung dengan wisatawan mancanegara.

“Kompetensi bahasa adalah salah satu alat yang dapat digunakan anak-anak kita agar mampu bersaing, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” katanya.

Menurut Suwariantha, peningkatan kualitas pendidikan vokasi tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan dunia industri menjadi bagian penting dalam mencetak sumber daya manusia unggul.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ketergantungan Bali terhadap sektor pariwisata perlu diimbangi dengan penguatan sektor lainnya. Pengalaman saat pandemi Covid-19 menjadi pelajaran berharga ketika perekonomian Bali sempat terkontraksi hingga hampir 15 persen.

Baca juga:  Karena Ini, Pemilik Usaha Kuliner Belum Ditindak Terkait COVID-19

Karena itu, Pemerintah Provinsi Bali mendorong transformasi ekonomi dengan memperkuat sektor pertanian, perkebunan, industri kreatif, industri digital, dan sektor produktif lainnya sebagai penopang utama pariwisata.

“Pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Harus didukung pertanian, perkebunan, seni budaya, ekonomi kreatif dan sektor lainnya agar pariwisata Bali semakin kuat dan berkelanjutan,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala SMKN 2 Sukawati, I Made Soma, ST., M.Pd., mengungkapkan tingginya minat terhadap jurusan perhotelan dan kuliner juga terjadi di sekolah yang dipimpinnya.

Dari 602 siswa baru yang diterima pada SPMB 2026, jurusan Kuliner dan Perhotelan menjadi kompetensi keahlian dengan jumlah peminat terbanyak.

Menurut Soma, dalam tiga tahun terakhir SMKN 2 Sukawati yang masuk kategori Grade A terus menjadi sekolah vokasi favorit lulusan SMP, terutama pada dua jurusan tersebut.

Baca juga:  SPW Solusi Atasi Pengangguran Terdidik

“Perhotelan dan Kuliner memang selalu menjadi primadona setiap tahun. Pada penerimaan sebelumnya bahkan kami membuka masing-masing delapan kelas karena tingginya minat masyarakat,” ujarnya, Kamis (23/7).

Besarnya jumlah peserta didik juga berdampak pada meningkatnya jumlah rombongan belajar (rombel). SMKN 2 Sukawati saat ini memiliki sekitar 52 rombel, sementara ruang kelas yang tersedia hanya sekitar 34 ruang.

Kondisi tersebut bahkan sempat menjadi perhatian Komisi III dan Komisi IV DPRD Provinsi Bali yang melakukan peninjauan ke sekolah.

Namun Soma memastikan keterbatasan ruang belajar tidak mengganggu proses pembelajaran karena sistem pendidikan di SMK berbeda dengan sekolah umum.

“Sebagian besar siswa kelas XI menjalani praktik kerja industri sehingga tidak seluruh siswa berada di sekolah pada waktu yang sama. Kelas X dan XII masih bisa belajar di sekolah dan praktik di bengkel-bengkel yang tersedia,” jelasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN