Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore (17/7) ditutup menguat.

Penguatan ini disebabkan antusiasme investor menyambut musim rilis Laporan Keuangan periode kuartal II-2026 dan semester I-2026.

IHSG ditutup menguat 67,32 poin atau 1,10 persen ke posisi 6.175,53. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 13,33 poin atau 2,19 persen ke posisi 621,91.

“Penguatan IHSG didorong oleh penguatan emiten-emiten perbankan khususnya Big Caps, dan oleh beberapa emiten Big Caps lainnya, serta diperkirakan adanya inflow asing kepada emiten-emiten perbankan yang sedang rilis Laporan Keuangan,” ujar Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana dikutip dari Kantor Berita Antara.

Secara historis selama 10 tahun terakhir, IHSG selalu mengalami penguatan pada bulan Juli seiring adanya musim rilis laporan keuangan periode kuartal II-2026 dan semester I-2026 dari emiten-emiten di BEI.

Baca juga:  Kurangi Ketergantungan Pariwisata, 3 Sektor Ini Jadi Kunci Pengembangan Masa Depan SDM Bali

Senada dengan Herditya, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan penguatan indeks lebih banyak didorong oleh faktor domestik, terutama kenaikan saham-saham perbankan utamanya Himbara yang menjadi motor utama.

“Sentimen positif juga datang dari ketentuan terbaru High Shareholding Concentration (HSC), yang memberikan persepsi adanya peningkatan transparansi dan pengawasan pasar, sehingga membantu memperbaiki market sentiment investor,” ujar Elandry.

Dari sisi teknikal, Elandry melihat kenaikan indeks sebagai technical rebound setelah IHSG mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

“Investor mulai melakukan akumulasi kembali, terutama pada saham-saham Big Caps yang memiliki likuiditas tinggi seperti sektor perbankan,” ujar Elandry.

Selain itu, ia menjelaskan sebagian sentimen negatif sebelumnya sudah cukup banyak Price In ke harga saham, sehingga ketika ada katalis positif, ruang untuk pemulihan menjadi lebih terbuka.

Baca juga:  Perekonomian Nasional Diklaim Sudah ke Level Sebelum Pandemi

“Namun, investor tetap perlu mencermati faktor eksternal seperti pergerakan bursa saham global, arah suku bunga The Fed, nilai tukar Rupiah, serta potensi perubahan foreign flow (arus dana asing) yang dapat mempengaruhi volatilitas pasar ke depan,” ujar Elandry.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor menguat yaitu dipimpin sektor keuangan yang naik sebesar 2,36 persen, diikuti oleh sektor kesehatan dan sektor barang konsumen non primer yang naik masing-masing sebesar 0,79 persen dan 0,60 persen.

Sedangkan tiga sektor melemah yaitu sektor barang baku turun paling dalam sebesar 0,67 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor teknologi yang turun masing-masing sebesar 0,30 persen dan 0,10 persen.

Baca juga:  Harus Diantisipasi!! Dampak Pembatasan Aktivitas Ekonomi saat Wabah COVID-19 Melanda

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu KOKA, KBLV, AGAR, HOPE, dan ECII. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni AIMS, BAPA, PRDL, JELI dan RMKE.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.985.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 16,32 miliar lembar saham senilai Rp24,04 triliun. Sebanyak 363 saham naik, 274 saham menurun dan 328 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 3,96 persen ke 64.186,00, indeks Shanghai melemah 3,05 persen ke 3.764,15, indeks Hang Seng melemah 1,78 persen ke 24.562,24, indeks Kospi melemah 6,37. (kmb/balipost)

BAGIKAN