Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Jumat sore (17/7), menguat 65 poin atau 0,45 persen menjadi Rp17.921 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp17.986 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dilansir dari Kantor Berita Antara menilai penguatan rupiah dipengaruhi rilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II-2026 oleh Bank Indonesia (BI).

“Aktivitas dunia usaha terpantau meningkat. BI melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 berada di 12,97 persen, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 10,11 persen,” ujar Ibrahim.

Kegiatan usaha yang meningkat didorong kenaikan kinerja mayoritas Lapangan Usaha (LU) utama, antara lain LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Konstruksi, dan LU Pertambangan dan Penggalian sejalan dengan aktivitas usahanya, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sejalan dengan permintaan terjaga pada rangkaian periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan high season liburan sekolah pada triwulan II-2026.

Baca juga:  Logistik Pemilu Daerah Terluar Dipastikan Tiba Tepat Waktu

Kemudian, kapasitas produksi terpakai pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 73,8 persen, lebih tinggi ketimbang realisasi kuartal sebelumnya yang sebesar 73,33 persen. Peningkatan kapasitas produksi terpakai terutama ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, dan LU Pengadaan Listrik.

Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah.

Untuk kuartal III-2026, responden memperkirakan aktivitas dunia usaha sedikit melambat dengan SBT di 11,75 persen. Kinerja lapangan usaha yang diperkirakan meningkat adalah LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat, serta LU Konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta.

Baca juga:  'Recall' Airbus A-320 Belum Pengaruhi Industri Pariwisata Indonesia

Selain itu, kinerja kegiatan usaha pada LU Pertambangan dan Penggalian juga diprediksi meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan.

Dalam survei lain, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatatkan kinerja industri pengolahan berada di level 51,43 persen pada kuartal II/2026, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 52,03 persen

“BI mencatat bahwa PMI BI itu didorong oleh ekspansi (>50 persen) pada beberapa komponen, seperti Volume Produksi (53,81 persen), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00 persen), serta Volume Total Pesanan (52,77 persen),” ujar Ibrahim.

Melihat sentimen global, konflik yang terus berlanjut antara AS dengan Iran menimbulkan kekhawatiran bahwa biaya energi akan menjadi lebih tinggi, sehingga dapat memicu inflasi.

“Harga minyak yang lebih tinggi berisiko mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve dengan meningkatkan kemungkinan bahwa inflasi tetap di atas target. Walaupun data inflasi konsumen dan produsen AS minggu ini menunjukkan penurunan tekanan harga, tetapi pasar sebagian besar mengabaikan data retrospektif tersebut di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi terbaru dapat membalikkan tren disinflasi,” ujar dia lagi.

Baca juga:  Tiga Hari Melandai, Kasus COVID-19 Bertambah di Atas 100 Lagi

Pejabat Federal Reserve disebut terus menekankan risiko inflasi tetap ada, meskipun data terbaru menunjukkan tekanan harga sedang mereda.

“Para pembuat kebijakan telah berulang kali memperingatkan bahwa harga minyak yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah dapat memperumit prospek inflasi dan mengatakan bahwa mereka membutuhkan beberapa bulan lagi data harga yang rendah sebelum mempertimbangkan pemotongan suku bunga,” kata Ibrahim.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp17.944 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.041 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN