
DENPASAR, BALIPOST.com – Penampilan Ogoh-ogoh G.A.J.A.H karya ST. Yowana Saka Bhuwana, Banjar Tainsiat bersama Kedux Garage dengan Palawara Music Company dan Manubada menjadi momen yang ditunggu-tunggu masyarakat saat puncak D’Youth Festival 6.0, Sabtu (11/7) di Lapangan I Gusti Ngurah Made, Denpasar.
Lapangan menjadi penuh sesak oleh penonton yang ingin menyaksikan ogoh-ogoh dengan berbagai gerakan tersebut.
Penampilan Ogoh-ogoh G.A.J.A.H diiringi pramen tari tarian api berlangsung sekitar 15 menit. Gerakan ogoh-ogoh mulai dari posisi jongkok dilanjutkan posisi berdiri, gerakan tangan, belalai, jari, punggung, lutut, kepala hingga mata. Ogoh-ogoh hanya bergerak di lokasi awal.
Teriakan riuh penonton dengan gerakan yang ditampilkan ogoh-ogoh begitu ramai dibarengi dengan pengambilan gambar dengan kamera masing-masing yang tidak ingin melewatkan momen. Tarian dan musik pengiring pun begitu indah mewarnai penampilan yang ditunggu-tunggu masyarakat.
Sebelumnya, salah seorang pengurus Sekaa Teruna Yowana Saka Bhuwana, Banjar Taisiat Komang Angga Natyalaksana mengatakan, berbagai penyempurnaan ogoh-ogoh G.A.J.A.H telah dilakukan sejak Maret lalu. Perubahan paling menonjol terdapat pada bagian kepala.
Bagian ini dibuat lebih menyerupai bentuk gajah asli serta menggunakan material yang lebih ringan sehingga mampu menghasilkan gerakan yang lebih maksimal. “Bagian kuping kami bentuk ulang agar lebih realistis. Kepala juga dibuat lebih ringan sehingga mekanisme geraknya menjadi lebih baik,” ujarnya.
Selain bentuk yang lebih realistis, kepala ogoh-ogoh juga dilengkapi mekanisme yang memungkinkan mata, rahang, belalai, dan telinga dapat bergerak saat pertunjukan berlangsung. Sementara itu, untuk bagian badan kata Komang Angga, tidak mengalami banyak perubahan, namun sejumlah gerakannya akan diselaraskan dengan koreografi para penari pengiring.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Luh Putu Ryastiti, didampingi Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif, AA Ngurah mengatakan, karya tari kolosal yang ditampilkan mengiringi ogoh-ogoh tersebut mengangkat kisah perjalanan dari kehancuran menuju harapan.
Pertunjukan ini menggambarkan bagaimana keserakahan manusia merusak keseimbangan alam hingga menghadirkan kehancuran. Di tengah kondisi tersebut hadir sosok Sang Penjaga Agung sebagai simbol kebijaksanaan yang membangkitkan kesadaran bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama.
Pertunjukan dibagi dalam tiga babak. Babak pertama menggambarkan eksploitasi alam yang melahirkan kerusakan, babak kedua menjadi titik balik ketika kesadaran mulai tumbuh dan alam kembali bernapas, sedangkan babak ketiga menghadirkan harmoni baru ketika manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual kembali menyatu. (Widiastuti/balipost)










