
DENPASAR, BALIPOST.com – Kesuksesan pementasan Paguyuban Drama Gong Lawas (DGL) di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, pada 2 Juli 2026, disyukuri jajaran pengurus, pemain, dan kru melalui acara syukuran di Puri Gandapura, Denpasar, Sabtu (11/7) sore. Momentum tersebut sekaligus menjadi ajang evaluasi sekaligus penyemangat untuk menjaga eksistensi drama gong sebagai warisan seni pertunjukan Bali.
Ketua Paguyuban Drama Gong Lawas (DGL), Anak Agung Gede Oka Aryana, SH., M.Kn., didampingi Sekretaris Drs. I Gusti Putu Nuraga menyampaikan rasa syukur karena pementasan di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 berjalan lancar dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja keras seluruh kru, pemain, hingga penabuh gamelan yang menjalani latihan intensif sebelum tampil. Ia mengapresiasi dedikasi seluruh tim yang mampu menghadirkan pertunjukan berkualitas sehingga berhasil mengobati kerinduan masyarakat terhadap drama gong lawas.
Agung Aryana juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Bali yang sejak awal memberikan dukungan terhadap penampilan DGL di PKB. Dukungan tersebut dinilai menjadi motivasi besar bagi para seniman untuk terus berkarya dan mempertahankan keberadaan drama gong di tengah perkembangan zaman.
Ia mengungkapkan tingginya antusiasme masyarakat, termasuk melalui media sosial, yang menginginkan sejumlah lakon klasik kembali dipentaskan. Salah satunya adalah judul “Gusti Made Getas” yang banyak diusulkan untuk kembali diangkat pada kesempatan mendatang.
“Kalau tahun depan kembali mendapat kesempatan tampil di PKB, kami tidak boleh kalah. Kami akan berusaha menampilkan garapan yang lebih baik lagi sesuai harapan masyarakat,” ujar pria yang berprofesi sebagai notaris ini.
Selain menyiapkan garapan baru, DGL juga menaruh perhatian besar terhadap regenerasi pelaku seni drama gong. Menurut Oka Aryana, keberlangsungan drama gong sangat bergantung pada lahirnya pemain-pemain muda yang mampu melanjutkan estafet para maestro.
Karena itu, DGL berkomitmen terus memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok drama gong generasi muda di berbagai kabupaten/kota agar memiliki ruang untuk berproses dan tampil.
Ia menilai parade drama gong dalam PKB menjadi wadah penting bagi para seniman daerah untuk berkarya, memperkenalkan kreativitas, sekaligus menghibur masyarakat. Keberadaan panggung tersebut diyakini mampu membangkitkan kembali gairah drama gong yang sempat meredup.
“Ruang pementasan drama gong sehari-hari masih sangat terbatas. Karena itu, parade drama gong di PKB menjadi ruang yang sangat penting bagi para seniman untuk berkarya sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya ini,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Oka Aryana juga menyampaikan apresiasi kepada Kurator PKB XLVIII Tahun 2026, Prof. I Wayan Dibia, yang terus memberikan arahan agar garapan drama gong tetap berpijak pada pakem seni tradisi, namun mampu dikemas menarik sehingga tetap diminati masyarakat.
Sementara itu, Ketua KPID Provinsi Bali, I Gede Agus Astapa, yang turut hadir dalam acara syukuran, menekankan pentingnya kaderisasi agar drama gong tidak kehilangan penerus.
Ia berharap pementasan drama gong tidak hanya berlangsung saat PKB, tetapi dapat dikembangkan menjadi agenda rutin melalui parade drama gong di berbagai daerah di Bali.
“Harus ada kaderisasi drama gong lawas. Ke depan kami berharap pementasan drama gong tidak hanya hadir saat PKB, tetapi juga ada parade drama gong secara rutin di Bali sehingga ruang berkesenian semakin terbuka dan regenerasi bisa berjalan,” ujarnya.
Melalui keberhasilan pementasan di PKB tahun ini, DGL berharap drama gong kembali menemukan masa kebangkitannya. Dukungan pemerintah, seniman senior, generasi muda, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar salah satu seni pertunjukan khas Bali tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. (Ketut Winata/balipost)










