
SINGASANA, BALIPOST.com – Potensi seni dan budaya yang dimiliki 14 desa di Kecamatan Kerambitan akan ditampilkan dalam Festival Kerambitan 2026 bertajuk Kerambitan Creative Space. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, 9-12 Juli, di Lapangan Desa Kerambitan itu tak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga upaya memperkuat identitas budaya desa serta menggerakkan perekonomian masyarakat melalui pelibatan pelaku UMKM.
Camat Kerambitan, I Putu Adi Supraja, Rabu (8/7), mengatakan penyelenggaraan festival tahun ini dikemas lebih komprehensif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Seluruh potensi desa, mulai dari kesenian tradisional, kreativitas generasi muda, hingga produk UMKM, diberikan ruang untuk tampil.
“Kalau sebelumnya lebih banyak menampilkan seni musik dan tari, kini seluruh potensi desa kami angkat. Setiap desa memiliki kesenian khas yang perlu dilestarikan sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, masing-masing dari 14 desa di Kecamatan Kerambitan akan menampilkan kesenian unggulannya. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat jati diri desa sekaligus menjadi media regenerasi pelaku seni.
Selain menjadi panggung budaya, festival juga memberi ruang bagi pelaku UMKM. Setiap desa yang memiliki produk unggulan difasilitasi stan khusus sehingga pengunjung dapat menikmati pertunjukan seni sembari berbelanja produk lokal.
Salah satu agenda yang diperkirakan menyedot perhatian masyarakat adalah lomba baleganjur kategori umum yang digelar Sabtu (11/7). Sebanyak 12 peserta ambil bagian, terdiri atas 11 sekaa dari Kabupaten Tabanan dan satu peserta dari Kabupaten Badung.
Rangkaian festival juga dimeriahkan penampilan kesenian dari Desa Penarukan, Belumbang, Timpag, Tibubiu, Batuaji, Tista, Kelating, Kesiut, hingga Samsam. Pada hari terakhir, Minggu (12/7), kegiatan diawali dengan acara bagi kalangan lansia sebelum ditutup hiburan musik yang menghadirkan sejumlah band dan musisi lokal.
Adi Supraja berharap Festival Kerambitan menjadi agenda tahunan yang mampu memperkuat pelestarian seni budaya berbasis desa, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui pemberdayaan UMKM. (Dewi Puspawati/balipost).










