
JAKARTA, BALIPOST.com – Timnas Spanyol mengusung misi mengakhiri catatan buruk di fase gugur saat menghadapi Austria pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Los Angeles Stadium, Amerika Serikat, Jumat (3/7) pukul 02.00 WIB. Meski lebih diunggulkan di atas kertas, La Roja tetap harus mewaspadai ancaman Wunderteam yang siap menghadirkan kejutan.
Dilansir dari Kantor Berita Antara, sebagai juara Grup H, Spanyol tampil impresif sepanjang fase grup. Tim asuhan Luis de la Fuente menjadi salah satu dari hanya dua peserta yang belum kebobolan, bersama Meksiko. Dominasi permainan mereka juga terlihat dari penguasaan bola tertinggi di turnamen, yakni 62 persen, serta catatan 2.219 umpan yang menjadi rekor terbanyak sejauh ini.
Namun, keunggulan statistik tersebut belum tentu menjamin kemenangan. Spanyol masih dibayangi trauma kegagalan di dua edisi Piala Dunia sebelumnya. Setelah mengangkat trofi dunia pada 2010, La Roja selalu tersingkir di laga pertama fase gugur, yakni oleh Rusia pada 2018 dan Maroko pada 2022.
Kini, tantangan terbesar Spanyol bukan hanya berasal dari kualitas lawan, tetapi juga tekanan psikologis untuk memutus kutukan tersebut.
Meski demikian, Spanyol memiliki modal kepercayaan diri yang tinggi. Kesuksesan menjuarai Piala Eropa 2024 menjadi inspirasi untuk mengulang sejarah ketika mereka menjuarai Euro 2008 sebelum akhirnya menjadi kampiun Piala Dunia 2010.
Secara permainan, La Roja memang jauh lebih dominan dibanding Austria. Rodri dan kolega menciptakan 55 peluang sepanjang fase grup, lebih dari dua kali lipat milik Austria yang hanya menghasilkan 26 peluang. Meski penyelesaian akhir, termasuk dari Lamine Yamal, belum sepenuhnya tajam, Spanyol tetap menjadi tim yang paling mampu mengendalikan tempo pertandingan.
Permainan umpan pendek cepat dan rotasi lima gelandang serang membuat lawan lebih banyak bertahan. Bahkan, dalam tiga pertandingan fase grup, Spanyol tidak menghadapi satu pun tembakan tepat sasaran pada babak pertama.
Selain itu, La Roja juga sedang menikmati tren positif dengan tidak terkalahkan dalam 33 pertandingan sejak Maret 2024, di luar kekalahan melalui adu penalti pada final UEFA Nations League 2025.
Di sisi lain, Austria datang tanpa tekanan besar. Berstatus runner-up Grup J, tim racikan Ralf Rangnick berhasil kembali menembus fase gugur Piala Dunia setelah penantian selama 44 tahun.
Meski sudah kebobolan enam gol sepanjang fase grup, Austria memiliki identitas permainan yang berbahaya melalui strategi gegenpressing, yakni menekan lawan secara agresif setelah kehilangan bola sebelum melancarkan serangan balik cepat.
David Alaba dan rekan-rekannya diperkirakan akan menerapkan blok pertahanan rendah sambil menunggu kesalahan Spanyol, seperti yang dilakukan Tanjung Verde ketika sukses menahan La Roja tanpa gol pada fase grup. Bedanya, Austria memiliki kualitas pemain dan pengalaman yang lebih mumpuni untuk memaksimalkan setiap peluang serangan balik.
Secara historis, Spanyol juga lebih unggul dengan sembilan kemenangan dari 16 pertemuan melawan Austria, sementara Wunderteam hanya meraih empat kemenangan. Namun, catatan tersebut diyakini tidak akan banyak berpengaruh ketika peluit kick-off dibunyikan.
Spanyol tetap menjadi favorit untuk lolos ke babak 16 besar. Namun, mereka wajib meningkatkan efektivitas penyelesaian akhir dan berusaha mencetak gol lebih dulu. Sebab, jika Austria mampu unggul lebih dahulu, tekanan psikologis yang selama ini menghantui La Roja bisa kembali muncul dan membuat jalan menuju perempat final semakin terjal. (Suka Adnyana/balipost)










