
JAKARTA, BALIPOST.com – Saat tim nasional Argentina berbicara tentang kekuatan kolektif, satu nama tetap tak pernah lepas dari pusat perhatian, Lionel Messi. Sang megabintang kembali menjadi tumpuan Albiceleste saat menghadapi Austria pada laga kedua Grup J Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Texas, Amerika Serikat, Senin (22/6) atau Selasa (23/6) dini hari WIB.
Di usia yang tak lagi muda, Messi justru tampil semakin matang dan efektif. Hat-trick yang dibukukannya saat Argentina menaklukkan Aljazair 3-0 pada laga pembuka menjadi bukti bahwa sang kapten masih mampu menentukan arah pertandingan hanya dengan beberapa sentuhan magis, dilansir dari Kantor Berita Antara.
Namun, seperti yang selalu ditekankan pelatih Lionel Scaloni, Argentina bukan hanya tentang Messi. Kekuatan sesungguhnya juara dunia itu terletak pada organisasi permainan yang solid, kecerdasan taktik, serta kemampuan para pemainnya membaca situasi pertandingan.
Sejarah pernah mencatat bagaimana Diego Maradona pada Piala Dunia 1994 menyebut Argentina mampu mengalahkan lawan yang lebih muda dan kuat karena bermain menggunakan “otak”. Filosofi itu masih hidup hingga kini di skuad Albiceleste.
Saat menghadapi Aljazair, Argentina bahkan tidak mendominasi statistik. Mereka kalah dalam penguasaan wilayah dan jumlah umpan di area berbahaya lawan. Namun ketika kesempatan datang, Argentina tampil sangat klinis. Dari 10 peluang yang tercipta, sebagian besar berstatus peluang emas dan tiga di antaranya dikonversi menjadi gol oleh Messi.
Di balik ketajaman sang kapten, terdapat kerja keras para pemain lain. Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister, Enzo Fernandez, dan Thiago Almada menjadi motor lini tengah yang memastikan Messi bebas berkreasi. Sementara duet Cristian Romero dan Lisandro Martinez tampil kokoh menjaga benteng pertahanan bersama kiper Emiliano Martinez.
Keharmonisan skuad ini membuat Argentina tetap menjadi salah satu kandidat terkuat juara. Banyak pemain muda Albiceleste tumbuh dengan mengidolakan Messi dan kini berjuang membantu sang legenda meraih pencapaian baru.
Messi sendiri tengah mengejar sejumlah rekor bergengsi. Ia berpeluang melampaui Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia serta berkesempatan menjadi pemain Argentina kedua setelah Daniel Passarella yang mampu mengangkat trofi dunia dua kali.
Meski demikian, Austria bukan lawan yang bisa diremehkan. Tim asuhan Ralf Rangnick datang dengan modal kemenangan atas Yordania pada laga pertama. Filosofi gegenpressing yang menjadi ciri khas Rangnick diperkirakan akan membuat Austria tampil agresif sejak menit awal.
David Alaba akan memimpin lini belakang Austria dalam misi berat meredam Messi. Di lini tengah, Konrad Laimer dan Nicolas Seiwald dituntut bekerja ekstra untuk mengimbangi kreativitas gelandang Argentina. Sementara di depan, Sasa Kalajdzic dan Marko Arnautovic harus menemukan cara menembus pertahanan tangguh Albiceleste.
Namun statistik berpihak kepada Argentina. Dalam delapan pertemuan terakhir melawan tim Eropa di putaran final Piala Dunia, Albiceleste hanya sekali menelan kekalahan. Sebaliknya, Austria memiliki catatan kurang meyakinkan ketika menghadapi wakil Amerika Selatan dengan hanya satu kemenangan dalam 10 laga terakhir.
Kedua negara juga nyaris tidak memiliki sejarah panjang pertemuan. Sebelum laga ini, Argentina dan Austria hanya dua kali berhadapan dalam pertandingan persahabatan. Satu laga berakhir imbang, sedangkan satu pertandingan lainnya dimenangkan Argentina.
Dengan kualitas skuad, pengalaman, serta performa impresif yang ditunjukkan pada laga pembuka, Argentina pantas lebih dijagokan untuk meraih kemenangan. Namun seperti biasa, ketika Albiceleste bertanding, sorotan utama tetap tertuju kepada satu sosok.
Lionel Messi kembali bersiap menulis babak baru dalam kisah besarnya di Piala Dunia. Jika mampu membawa Argentina menundukkan Austria, jalan menuju fase gugur sekaligus menuju keabadian sang legenda akan semakin terbuka lebar. (Suka Adnyana/balipost)










