Pelaksanaan Workshop International Trade Law di Fakultas Hukum Universitas Udayana, Jumat (12/6). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Merespons tantangan geopolitik yang kian dinamis, Indonesian Society of International Law Lecturers (ISILL) berkolaborasi dengan Fakultas Hukum (FH) Universitas Udayana (Unud) menggelar Workshop International Trade Law.

Edukasi strategis yang berlangsung selama tiga hari, 10 sampai 12 Juni di kampus FH Unud, Denpasar ini, menjadi momentum krusial untuk menambal keterbatasan jumlah ahli hukum perdagangan internasional di tanah air. Didukung oleh JWK Law Office dan Reza Zaki Lawfirm, lokakarya ini mempertemukan para akademisi serta praktisi hukum dari berbagai penjuru Indonesia.

Tujuan utama dari workshop ini untuk mengasah dan mendorong kemampuan diplomasi dagang internasional Indonesia. Di tengah ketatnya regulasi global, kemampuan bernegosiasi dan mempertahankan kepentingan ekonomi nasional di forum internasional.

Menurut Dekan FH Unud, Prof. Dr. Putu Gede Arya Sumerta Yasa, S.H., M.Hum., kegiatan ini dapat mendorong kemampuan bisnis dan dagang internasional yang lebih aplikatif lagi, mengingat situasi perang dagang yang terjadi di internasional sangat mengganggu ekonomi domestik banyak negara.

Baca juga:  Parkir di Garasi, Mobil Terbakar

Sementara itu, Wakil Dekan I FH Unud, Dr I Gusti Agung Mas Rwa Jayantiari menerangkan pertemuan ini akan banyak merumuskan hal-hal positif yang akan memberikan dampak pada keilmuan hukum dagang internasional. Tidak hanya membahas teori saja, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan praktek penerapannya.

“Harapannya, sinergi antara dari dunia keilmuan akademik dari seluruh Fakultas Hukum Universitas Udayana dan juga pengajar dari ISILL bisa merumuskan hal-hal yang bermanfaat bagi keilmuan hukum dan pengembangan internasional,” tutur Wakil Dekan I FH Unud usai penutupan Workshop International Trade Law, Jumat (12/6) sore.

Baca juga:  Jelang Pilkada, Penyaluran Bansos-Hibah Rawan Penyimpangan
Pelaksanaan Workshop International Trade Law di Fakultas Hukum Universitas Udayana, Jumat (12/6). (BP/eka)

Untuk memastikan transfer pengetahuan berjalan optimal, Ketua ISILL, Prof. Arie Afriansyah, S.H., MIL., Ph.D., memboyong deretan pakar dan narasumber, baik dari dalam maupun mancanegara. Salah satu yang dihadirkan adalah Prof. Dr. Peter Van den Bossche, mantan Hakim World Trade Organization (WTO) yang kini aktif di Xi’an Jiaotong University, serta Assistant Prof. Clara Weinhardt dari Maastricht University.

Dari dalam negeri, jajaran guru besar dan ahli dari berbagai universitas terkemuka seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Airlangga, Universitas Sebelas Maret, Universitas Tarumanagara, Universitas Indonesia, BINUS University, hingga tuan rumah Universitas Udayana, turut membedah peta jalan hukum dagang terkini.

Selama tiga hari, para peserta ditempa dengan materi-materi berbobot yang menjadi urat nadi perdagangan global, antara lain: fasilitasi perdagangan dan perdagangan jasa, hukum investasi perdagangan, mekanisme penyelesaian sengketa di bawah payung WTO (WTO dispute settlement), instrumen pengamanan perdagangan (trade remedies), dinamika hukum ekonomi regional ASEAN, hingga isu krusial mengenai reformasi WTO.

Baca juga:  Ini, Pengakuan KS yang Tega Meletakkan Bayi Perempuannya di Teras Rumah Warga

Melalui penguasaan materi-materi tersebut, workshop ini diharapkan tidak hanya melahirkan akademisi yang cakap di ruang kelas, tetapi juga melahirkan praktisi dan negosiator tangguh yang mampu membawa Indonesia berselancar di tengah ombak proteksionisme global.

Bendahara ISILL, Muhammad Reza Syariffudin Zaki berharap kedepannya kurikulum di semua kampus di Indonesia yang menjadi anggota ISILL akan dilakukan regenerasi. Sehingga dikemudian hari Indonesia dapat memperbesar peluangnya dalam melakukan negosiasi diplomasi yang memberikan keuntungan bagi kepentingan nasional. (Adv/balipost)

BAGIKAN