
SINGASANA, BALIPOST.com – Cuaca buruk disertai gelombang tinggi yang terjadi belakangan ini, membuat nelayan di Pantai Yeh Gangga, Tabanan, memilih tidak melaut. Jukung-jukung mereka terpaksa diparkir di pesisir pantai sambil menunggu kondisi ombak kembali normal.
Selain faktor cuaca, nelayan juga mengaku sedang mengalami paceklik ikan sejak dua bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat hasil tangkapan menurun drastis, terlebih saat memasuki musim dingin.
Untuk menyiasati keadaan, sebagian nelayan memilih mengisi waktu dengan menggarap sawah. Ada pula yang memperbaiki alat pancing dan jaring ikan sembari menunggu cuaca kembali bersahabat.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas nelayan pesisir masih terlihat di kawasan pantai. Dua nelayan asal Desa Sudimara, Ketut Puglet dan Ketut Genep, misalnya, tampak sibuk menyiapkan jaring dengan memasang timah sebagai pemberat.
Menurut mereka, ikan jenis lemujung yang biasanya mudah diperoleh kini semakin sulit didapat akibat ombak besar yang terus terjadi. “Sekarang kosong karena ombak besar dari kemarin. Sudah dua bulan ikannya jarang. Memang kalau musim dingin susah ikan,” ujar Ketut Genep, Jumat (29/5).
Selain lemujung, nelayan pesisir biasanya juga mendapatkan ikan belanak, gedepung, hingga kedabris. Jenis ikan yang tertangkap umumnya disesuaikan dengan ukuran lubang jaring yang digunakan.
Hasil tangkapan selama ini lebih banyak untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Dalam sekali mencari ikan, nelayan rata-rata hanya memperoleh 1 hingga 2 kilogram. Jika hasil tangkapan sedang banyak, barulah dijual ke pasaran. “Kalau ikan lemujung dan gedabris harganya sekitar Rp40 ribu per kilogram. Kalau panen baru dijual, kalau sedikit untuk makan sehari-hari,” katanya.
Ia menambahkan, saat kondisi laut sedang tidak bersahabat, nelayan bahkan bisa sampai tiga kali menebar jaring tanpa memperoleh ikan. Karena itu, sebagian nelayan memilih bertani sambil menunggu ombak kembali normal. (Dewi Puspawati/balipost)










