
DENPASAR, BALIPOST.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai menjadi tantangan ekonomi yang mulai dirasakan masyarakat Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Pada medio Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat menyentuh Rp17.600 -an per dolar AS.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Bali, IB Raka Suardana mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor global seperti tingginya suku bunga Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik dunia, perlambatan ekonomi global, serta meningkatnya permintaan dolar untuk impor dan pembayaran utang luar negeri.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat karena harga barang impor, bahan bakar, elektronik hingga bahan baku industri menjadi lebih mahal.
“Dalam konteks Indonesia saat ini, pelemahan rupiah tidak hanya menjadi isu makroekonomi, tetapi juga persoalan yang memengaruhi daya beli masyarakat sehari-hari,” ujarnya.
Ia menilai, masyarakat perlu mengubah pola konsumsi menjadi lebih bijak dan produktif. Ketika rupiah melemah, harga barang impor biasanya naik lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat. Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi gaya hidup konsumtif, terutama membeli barang impor yang tidak terlalu penting.
“Mengutamakan produk lokal menjadi langkah sederhana namun penting untuk membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat UMKM dalam negeri,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga diminta mulai membangun ketahanan keuangan keluarga. Ia mengutip teori manajemen keuangan keluarga dari Jack Kapoor, Les Dlabay, dan Robert Hughes tahun 2012 yang menekankan pentingnya dana darurat dan pengelolaan pengeluaran saat kondisi ekonomi bergejolak.
Dalam situasi rupiah melemah, masyarakat disarankan memperbesar tabungan, mengurangi utang konsumtif, dan lebih berhati-hati menggunakan fasilitas kredit. Banyak keluarga dinilai rentan karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, sementara harga kebutuhan pokok terus meningkat.
Di sisi lain, pelemahan rupiah disebut juga membuka peluang ekonomi baru. Produk lokal dan sektor pariwisata menjadi lebih kompetitif karena biaya di Indonesia relatif lebih murah bagi wisatawan asing.
“Masyarakat dapat memanfaatkan kondisi ini dengan memperkuat usaha berbasis lokal, ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan hingga jasa digital,” ujarnya.
Ia mencontohkan di Bali, ketika wisatawan asing meningkat akibat nilai tukar yang menguntungkan, UMKM lokal turut merasakan dampak positif melalui peningkatan penjualan dan perputaran ekonomi rakyat.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik berlebihan menghadapi pelemahan rupiah. Menurutnya, kepanikan justru dapat memperburuk kondisi ekonomi melalui perilaku konsumtif dan spekulatif.
“Yang dibutuhkan adalah sikap adaptif, hemat, produktif, serta meningkatkan keterampilan agar mampu bertahan di tengah perubahan ekonomi global,” katanya.
Ia menambahkan, kekuatan ekonomi suatu bangsa tidak hanya ditentukan pemerintah atau perusahaan besar, tetapi juga ketahanan ekonomi masyarakat kecil dalam menghadapi tekanan ekonomi secara bersama-sama. (Suardika/balipost)









