
JAKARTA, BALIPOST.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga stabilitas sektor energi di tengah dinamika harga minyak global.
Ia mengatakan pihaknya masih memonitor harga minyak dunia yang bergerak dinamis.
Dikutip dari Kantor Berita Antara, ia menjelaskan pergerakan harga minyak dunia saat ini berada pada kisaran 90 hingga 120 dolar AS per barel dan masih dipengaruhi kondisi global.
“Kelihatannya di range harga itu 90 sampai 120 dolar AS per barel, sesudah itu dia turun lagi ke sekitar 100,” ujarnya.
Menurut dia, fluktuasi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk ketegangan geopolitik yang membuat harga energi sulit diprediksi.
Airlangga menegaskan pemerintah tidak menetapkan satu skenario tetap, melainkan menyiapkan kebijakan yang fleksibel sesuai perkembangan situasi.
“Yang penting kita punya skenario untuk menjaga dan skenario ini sifatnya dinamis,” ungkapnya.
Ia mengatakan pendekatan tersebut diperlukan agar pemerintah dapat merespons perubahan harga energi secara cepat dan terukur.
Selain itu, pemerintah memantau realisasi harga pembelian energi yang tidak selalu mengikuti harga tertinggi di pasar global karena menggunakan rata-rata harga pembelian.
Pendekatan tersebut dinilai membantu menjaga beban subsidi energi tetap terkendali di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
Di sisi fiskal, pemerintah juga mengalokasikan subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi.
Pemerintah juga mendorong penguatan energi domestik melalui implementasi program biodiesel dan energi baru terbarukan (EBT).
“Implementasi B50 pada 1 Juli nanti dan akselerasi program EBT diharapkan bisa menghemat pembelian diesel atau solar sebesar Rp48 triliun,” ujar Airlangga.
Menurut dia, pengembangan energi alternatif menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
Selain menjaga harga dan pasokan, pemerintah juga menyiapkan kebijakan untuk mendukung ketersediaan energi, termasuk melalui penyesuaian kebijakan perdagangan.
Airlangga menyebut salah satu langkah yang disiapkan adalah penurunan bea masuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) guna menjaga pasokan energi di dalam negeri.
“Beberapa langkah yang disiapkan adalah penurunan bea masuk impor LPG menjadi 0 persen dari 5 persen,” tuturnya.
Ia menegaskan seluruh kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga energi, ketahanan pasokan, dan kondisi fiskal negara. (kmb/balipost)










