Sejumlah pengunjung berfoto di kawasan Kampoeng Jalak Bali, Tengkudak, Tabanan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Upaya konservasi burung jalak Bali terus dikembangkan di Kampoeng Jalak Bali yang berlokasi di Desa Adat Tingkih Kerep, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel. Program ini mengandalkan dukungan masyarakat sebagai kunci utama keberhasilan.

Project Manager Friends of Nature People and Forest Tabanan, drh. Made Sugiarta mengatakan bahwa perintisan konservasi di kawasan tersebut tidak bisa berjalan tanpa keterlibatan warga desa adat. Saat ini, populasi jalak di kawasan tersebut telah berkembang menjadi sekitar 150 ekor dan menyebar ke empat desa di sekitar Tengkudak.

Burung jalak dikenal memiliki sifat teritorial dengan kebutuhan ruang sekitar 2 hektare. Untuk mendukung perkembangbiakan, pengelola menyediakan kotak sarang atau nest box yang dipasang pada ketinggian sekitar 5 meter. Meski demikian, burung jalak tetap memilih sendiri sarang yang akan ditempati.

Baca juga:  Buka Pariwisata Internasional, Pemerintah Diminta Jangan "PHP" Lagi

Ia menambahkan, tantangan utama saat ini adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang konservasi. Oleh karena itu, edukasi tentang pentingnya pelestarian jalak terus dilakukan melalui berbagai forum, termasuk rapat adat atau sangkep banjar. “Selama tidak ada perburuan liar, jalak bisa berkembang dengan baik,” ujar Sugiarta, Minggu (3/5).

Selain konservasi, kawasan ini juga dikembangkan sebagai destinasi eduwisata. Pelan-pelan, tingkat kunjungan wisatawan menggeliat. Saat ini, Kunjungan wisatawan dapat mencapai 200 orang per hari saat akhir pekan, dengan dominasi pelajar. Wisatawan mancanegara tercatat sekitar 10 persen dari total pengunjung.

Baca juga:  Puluhan Hotel dan Vila di Bali Dijual, Ini Kata Kadispar

“Aktivitas yang ditawarkan antara lain fotografi, pembuatan konten, serta trekking dengan beberapa pilihan jalur. Saat ini jalur pendek dan sedang telah tersedia, sementara jalur panjang masih dalam tahap pengembangan,” kata Sugiarta.

Pihaknya juga tengah menyiapkan taman edukasi seluas 22 are yang didukung pendanaan CSR. Untuk mendukung layanan wisata, empat orang warga telah dilatih menjadi pemandu. Menariknya, kawasan ini tidak memberlakukan tiket masuk dan hanya mengandalkan donasi dari pengunjung.

Baca juga:  Desa Adat Sumbersari Ikut Jaga Kelestarian Curik Bali

Ke depan, pengelola berharap adanya dukungan lebih dari pemerintah daerah, mengingat jalak Bali adalah satwa langka dari Pulau Dewata sekaligus punya potensi pariwisata.

Sementara itu, salah seorang pengunjung yang juga perintis komunitas pelestari jalak Bali Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Kadek Kamardiyana mengatakan bahwa konsep konservasi dan eduwisata yang ditawarkan di Kampoeng Jalak Bali sejatinya bisa menjadi alternatif pengembangan wisata perdesaan. Pihaknya pun berharap pengelola Kampoeng Jalak Bali bisa memberikan edukasi dan dukungan terhadap upaya konservasi jalak Bali di wilayah lainnya di Bali, termasuk Desa Pejeng. (Sumarthana/balipost)

BAGIKAN