Seorang pengunjung melihat patung kuda yang dipamerkan dalam Inner Landscapes di Sudakara ArtSpace, Sanur, Rabu (15/4). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Karya-karya Timbul Raharjo, yang pernah menjabat sebagai Rektor ISI Yogyakarta ditampilkan dalam sebuah pameran di Sudakara ArtSpace, Sanur. Timbul yang berpulang pada 2023 memiliki sejumlah karya patung yang menjadi daya tarik utama dalam pameran Inner Landscapes ini.

Pameran yang dibuka mulai Rabu (15/4) hingga 30 Juni 2026 ini mengajak audiens memasuki pengalaman reflektif yang mendalam, di mana tubuh manusia melampaui bentuk fisiknya dan menjadi wadah bagi narasi emosional serta psikologis.

Setiap karya patung memuat lapisan makna yang diekspresikan melalui pose, tekstur, distorsi, dan gestur, menggambarkan kondisi keterasingan, keheningan, pencarian, ketegangan, pelepasan, hingga penerimaan.

Baca juga:  Extinction Threaten Balinese Native Weaving Fabrics

Menurut putra sulung Timbul, Magistyo Tahun Emas Raharjo, karya-karya yang ditampilkan banyak menggunakan material seperti aluminium, stainless steel, dan kayu jati. Ia, yang juga mengikuti jejak ayahnya sebagai seniman ini, mengungkap material tersebut dipilih untuk memperkuat karakter visual sekaligus menghadirkan dimensi emosional yang ingin disampaikan kepada penikmat seni.

“Kita bikin banyak karya bentuk kuda karena mampu merepresentasikan kekuatan, keindahan, serta emosi yang tidak selalu bisa diungkapkan secara verbal,” ujarnya dalam keterengan tertulis.

Baca juga:  Sendai Focal Point Reception Held at Museum Pasifika

Creative Director Timboel Art Gallery ini pun menuturkan pemasaran karya banyak ke luar negeri, terutama Amerika Eropa. Namun, akhir-akhir ini permintaan dari dalam negeri juga sudah mulai muncul.

COO Sudamala Resorts, Ricky Putra menyampaikan komitmen untuk terus menjaga dan melestarikan seni serta budaya melalui berbagai bentuk ekspresi kreatif. “elalui pameran ini, kami ingin menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung sekaligus memperkaya lanskap seni di Bali,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pameran ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi karya yang ditampilkan di Sudakara ArtSpace. “Biasanya kami menghadirkan pameran lukisan, namun kali ini kami membawa karya yang berbeda dengan kombinasi medium seperti patung aluminium,” paparnya.

Baca juga:  Farmer at Pengotan Cultivates New Variety Orange

Karya seperti Alone Woman merepresentasikan kesendirian bukan sebagai kehilangan, melainkan sebagai ruang untuk mengenal diri dan refleksi. Angel Hold Face menggambarkan ketegangan halus antara kelembutan dan beban emosional.

Sementara Mummy, mengeksplorasi tema keterikatan, perlindungan, serta jejak luka emosional yang membentuk identitas. Karya-karya abstrak dalam pameran ini melengkapi narasi dengan pendekatan yang lebih intuitif, menghadirkan emosi yang sulit didefinisikan namun terasa mendalam. (kmb/balipost)

BAGIKAN