Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bali, Supendi. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Bali hingga 28 Februari 2026 tercatat mencapai Rp2,2 triliun dengan total 25.641 debitur. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, baik dari sisi jumlah debitur maupun nilai penyaluran.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Bali, Supendi mengatakan, jumlah debitur KUR di Bali meningkat 9,74 persen secara tahunan (year on year), sementara total penyaluran kredit tumbuh lebih tinggi yakni 41,53 persen.

“Penyaluran kredit program seperti KUR di Bali mencapai Rp2,2 triliun dengan total 25.641 debitur. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi dan kebutuhan pembiayaan UMKM di Bali terus meningkat,” ujar Supendi di Denpasar, Selasa (7/4).

Dijelaskan dari sisi skema kredit, penyaluran masih didominasi KUR Mikro dengan 20.240 debitur dan nilai penyaluran Rp1,31 triliun. Selanjutnya KUR Kecil sebesar Rp617,05 miliar dengan 2.112 debitur, serta KUR sektor perumahan dan skema lainnya dalam porsi lebih kecil.

Baca juga:  Jokowi Sebut Ada Seratusan Triliun KUR Belum Tersalurkan

Dominasi KUR Mikro menunjukkan struktur UMKM Bali masih bertumpu pada usaha skala kecil seperti pedagang, usaha makanan, warung, kerajinan hingga usaha rumah tangga yang membutuhkan modal kerja.

Berdasarkan sektor usaha, perdagangan besar dan eceran menjadi penerima kredit terbesar dengan porsi 34,65 persen dari total penyaluran. Posisi kedua ditempati sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar 19,91 persen, disusul sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan, dan lainnya sebesar 12,51 persen.

Supendi menjelaskan dominasi sektor perdagangan mencerminkan struktur ekonomi Bali yang masih bertumpu pada pariwisata, jasa, dan aktivitas perdagangan UMKM.

Baca juga:  Bali United Wajib Menang Lawan Kaya FC

Secara nasional, kata dia, Bali menempati peringkat keenam provinsi dengan penyaluran KUR terbesar dengan nilai Rp2,20 triliun. Posisi ini berada di bawah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara, namun masih lebih tinggi dibandingkan Riau, Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat.

Capaian tersebut menempatkan Bali sebagai salah satu provinsi dengan penyaluran KUR terbesar di luar Pulau Jawa dan menunjukkan perputaran ekonomi daerah tetap kuat seiring pemulihan sektor pariwisata.

Dari sisi wilayah, penyaluran terbesar tercatat di Kota Denpasar sebesar Rp389,89 miliar dengan 3.263 debitur, disusul Kabupaten Badung Rp328,62 miliar dengan 2.906 debitur, serta Kabupaten Gianyar Rp308,98 miliar dengan 3.274 debitur.

Baca juga:  Konjen Gou Haodong: Kegigihan Tiongkok Ciptakan Keajaiban Ekonomi

Sementara Kabupaten Buleleng mencatat jumlah debitur terbanyak yakni 4.469 debitur dengan penyaluran Rp249,26 miliar. Tabanan mencatat Rp269,04 miliar, Karangasem Rp222,10 miliar, Jembrana Rp147,90 miliar, Klungkung Rp146,32 miliar, dan Bangli Rp140,39 miliar.

“Sebaran ini menunjukkan penyaluran pembiayaan di Bali relatif merata, dengan konsentrasi di pusat aktivitas ekonomi seperti Denpasar dan Badung, serta basis debitur besar di wilayah utara seperti Buleleng,” paparnya.

Supendi menilai pertumbuhan penyaluran KUR di bulan kedua awal 2026 menjadi sinyal positif bahwa ekonomi Bali terus bergerak dan UMKM membutuhkan dukungan pembiayaan untuk memperluas usaha.

“KUR menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang ditargetkan dapat mencapai sekitar 6 persen pada tahun 2026,” ujarnya. (Suardika/balipost)

 

BAGIKAN