
DENPASAR, BALIPOST.com – Potensi hujan masih membayangi Bali dalam sepekan ke depan. Prakirawan cuaca dari BMKG Wilayah III Denpasar, Diana Siregar, mengungkapkan berdasarkan model cuaca periode 1–7 April 2026, hujan ringan hingga lebat diperkirakan terjadi secara tidak merata di sejumlah wilayah.
Kondisi ini dipicu oleh adanya daerah konvergensi di sekitar Bali yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Ditambah lagi, suhu muka laut yang hangat di kisaran 28–30 derajat Celsius meningkatkan suplai uap air di atmosfer, sehingga memperbesar peluang terbentuknya awan konvektif.
“Awan cumulonimbus merupakan awan konvektif penghasil hujan. Dengan kondisi saat ini, potensi pembentukan awan hujan memang meningkat,” jelasnya, saat dikonfirmasi, Kamis (2/4).
Namun, bukan hanya hujan yang perlu diwaspadai. Diana menegaskan, jika awan Cumulonimbus tumbuh di sekitar area bandara dan memicu hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat, hal ini dapat berdampak langsung pada penurunan jarak pandang (visibility).
“Kondisi tersebut bisa memengaruhi aktivitas penerbangan, terutama saat proses lepas landas dan pendaratan,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga telah mengeluarkan peringatan dini terkait peningkatan pertumbuhan awan Cumulonimbus di berbagai wilayah Indonesia pada periode yang sama.
Awan jenis ini dikenal sebagai pemicu cuaca ekstrem, mulai dari hujan lebat dalam waktu singkat, kilat atau petir, angin kencang, hingga badai guntur. Dalam dunia penerbangan, awan Cb menjadi salah satu faktor utama penyebab turbulensi dan gangguan operasional pesawat.
Masyarakat, khususnya pengguna jasa transportasi udara, diimbau untuk tetap waspada dan memperhatikan informasi cuaca terkini guna mengantisipasi potensi gangguan perjalanan. (Ketut Winata/balipost)










