Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat memberikan sosialisasi kepada kadus dan kaling berlangsung di Gedung Sewaka Dharma (GSD), Kamis (26/3). (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kepala dusun (kadus) hingga kepala lingkungan (kaling) menjadi garda terdepan dalam mendorong penanganan sampah di hulu. Untuk itu, kadus dan kaling se-Kota Denpasar dikumpulkan untuk diberikan sosialisasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar sebagai persiapan larangan pembuangan sampah organik ke TPA Suwung per 1 April nanti.

Sosialisasi berlangsung di Gedung Sewaka Dharma (GSD) Kota Denpasar, Kamis (26/3). Usai sosialisasi sesi pertama, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, pihaknya tak hanya akan mengundang kaling dan kadus, melainkan kelian adat. “Harapan kami, kaling ini kan punya kewenangan kewilayahan. Tujuannya agar kaling/Kadus berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat,” katanya.

Baca juga:  Hujan Sebentar, Ruas Jalan di Bangli Terendam

Selain sosialisasi pemilahan sampah, peran kadus dan kaling juga begitu penting dalam pembagian komposter bag agar menyeluruh. Disamping itu, lewat kaling dan kadus juga akan membantu warga yang memiliki sampah kondisional seperti sampah upakara untuk menghubungi DLHK Denpasar. “Karena kami akan membantu penanganan sampah sisa upakara. Misalnya ada sampah seperti ngaben, nganten, kita siapkan telepon khusus untuk sampah. Nanti kaling bisa hubungi nomor itu dan diambil DLHK,” jelasnya.

Baca juga:  Tiga Pelabuhan Terwujud, Wali Kota Denpasar dan Bupati Klungkung Sampaikan Terima Kasih

Sementara itu, salah seorang perwakilan kadus, yakni Kadus Puncaksari, Desa Dangin Puri Kauh, Wayan Sukadarma, mengungkapkan, penanganan sampah di wilayahnya sudah berjalan sesuai arahan pemerintah. Di wilayahnya sudah diberlakukan pemilahan, pembuatan teba modern, hingga pembagian komposter bag.

Khusus pembagian komposter bag, pihaknya mengaku belum semua terjamah dikarenakan terkendala jumlah dari produsen. Dia menyebutkan baru sekitar 60 persen warganya yang mendapatkan komposter bag. “Karena permintaan banyak, tapi stok sedikit. Begitu ada dari produsen langsung kami distribusikan,” paparnya.

Baca juga:  1,7 Ton Sampah Plastik Ditukarkan Beras

Pihaknya pun menyebut, pengumpulan kaling dan kadus adalah langkah yang tepat dikarenakan sebagai ujung tombak di masyarakat. Meski demikian, ia berharap edukasi dan sosialisasi juga dilakukan masif di sekolah hingga kampus khususnya terkait pemilahan dan penanganan sampah. (Widiastuti/bisnisbali)

BAGIKAN